Selasa, 16 Oktober 2012

Just for you

Bahwa, di setiap jalan pasti ada ujung, kamu pasti percaya itu, kita semua. Tak akan ada yang sia-sia jika kita mau berusaha menemukan ujung jalan yang indah. Sekian lama kita menjalin hubungan, kau pun semakin dewasa, belajar banyak hal. Aku bahkan kalah darimu. Kau mampu menguatkan dirimu. Lambat laun, ku lihat kau sering murung, entah kenapa aku tak mengerti apa yang terjadi. semakin hari, semakin menjadi,. kulihat kau menangis sangat lama, berjam-jam. Hingga aku pun kehilangan cara menenangkanmu, menghentikan tangismu. Tangismu semakin keras, meledak-ledak, dadamu semakin sesak aku tahu itu. Tapi aku sampai tak habis pikir kau bisa seperti itu. Ya, karena aku belum tahu apa masalahmu. apa yang sudah terjadi. Hatiku pun semakin berkecamuk, entah apa, setelah aku tahu apa masalahmu, sakit memang rasanya, bagai diiris sembilu. ini memang sangat berat bagimu. Aku tahu. ini bukan hal yang bisa dengan mudah kau hadapi. namun aku percaya, dan kau pun harus yakin bahwa skenario Alloh tak akan pernah salah. Kau harus yakin dengan itu, kau pun bisa bahagia entah apapun yang akan terjadi di depan sana. Kita harus sama-sama bahagia :)

Minggu, 30 September 2012

Perahu Kertas

Perahu kertasku kan melaju Membawa surat cinta bagimu Kata-kata yang sedikit gila Tapi ini adanya Perahu kertas mengingatkanku Betapa ajaib hidup ini Mencari-cari tambatan hati Kau sahabatku sendiri Hidupkan lagi mimpi-mimpi Cinta-cinta (Cita-cita) Cinta-cinta Yang lama kupendam sendiri Berdua ku bisa percaya Ku bahagia kau telah terlahir di dunia Dan kau ada di antara milyaran manusia Dan ku bisa dengan radarku Menemukanmu Tiada lagi yang mampu berdiri Halangi rasaku Cintaku padamu Ku bahagia kau telah terlahir di dunia Dan kau ada di antara milyaran manusia Dan ku bisa dengan radarku Menemukanmu Setiap orang berhak bahagia. Ia boleh memilih apapun untuk hidupnya di masa depan. Mendengar lagu ‘perahu kertas’ begitu menyejukkan, terlepas dengan apa makna yang dimaksud sang pencipta lagu, rasanya bahagia sekali seperti bait reff lagu itu. Entah kenapa, mungkin karena musiknya yang ringan membawa kenikmatan tersendiri untuk mendengarnya berulang-ulang. Bahagia. Satu kata yang pasti diinginkan oleh setiap orang. Mana ada orang yang tidak mau bahagia? Sehina-hina apapun dirinya, pasti ia punya naluri dan hasrat untuk bahagia. Tak hanya persoalan rasa, hati namun jiwa dan raga semuanya bahagia. Bukan karena harta, pasangan, keluarga atau apapun yang ada di sekitar namun lebih dari semua itu. Makna bahagia begitu banyak dan kompleks mungkin. Ada banyak orang yang selalu tampak bahagia walau sedang didera bertubi-tubi masalah. Ada juga yang memilih sendiri menyelesaikan kesedihannya dengan menjauh dari teman-temannya yang biasa bersamanya. Bahagianya seorang yang sedang jatuh cinta saja membuat dirinya melayang-layang. Bahagia karena berhasil dalam meraih cita-citanya juga membuatnya semakin melambung. Bahagia bukan hal yang sulit diraih jika kita mau memaknai sebenar-benar bahagia. Energi-energi dalam diri kita tak akan habis jika hanya melakukan hal itu. Sebenar-benar bahagia adalah ketika kita menyadari betapa teraturnya hidup yang sudah kita jalani, dengan sekian banyak hal yang mungkin memusingkan, namun lebih banyak hal yang membuat kita takjub dan kagum. Siapa lagi yang membuat hidup kita teratur jika bukan Tuhan kita sendiri. Sang Pencipta semesta ini menguasai segala hal yang ada di jagad raya ini. Ia lebih memiliki hak untuk mengatur seluruh kehidupan ini karena Ia lah Sang Pemilik. Di saat kita jatuh pun, tak pernah ada anugerah yang lepas dari kita. Saat masalah begitu pelik, tak tahu harus melanjutkan hidup kemana, Tuhan masih memberi kesempatan kita untuk berfikir, merenung. Saat terjatuh sangat dalam, Tuhan masih memberikan begitu banyak teman yang setia menemani. Semuanya masih ada di sekitar kita. Apa yang kita butuhkan terhidang di depan mata. Hanya kadang kita lah yang tak mampu menemukan itu semua dan menganggapnya sebagai anugerah. Di setiap peristiwa, di setiap episode perjalanan, akan selalu ada liku-liku yang tak mampu kita cegah ketika itu sudah menjadi kehendak-Nya. Manusia memang hanya berhak ikhlas menerima semua itu. ia tak berhak protes, membantah, memberontak. Emang siapa manusia? Ia hanya butiran debu yang tak berkuasa apapun tanpa adanya Tuhan.

Selasa, 25 September 2012

WE

Kita berdiri di tempat yang sama memandang langit yang sama menikmati senja yang juga sama menyambut pagi yang suasananya pun tak jauh berbeda Kita lahir dari keluarga yang berbeda namun kita tercipta dari Tuhan yang sama hati kita terpaut Semua tentang kita tak akan ada habisnya hampir setiap hari kita berdiskusi hal yang membuatku bersemangat kita membuat satu momen yang cukup indah untuk dikenang namun akhirnya aku menyadari tak selamanya kita bisa bersama memiliki momen bersama lagi

Perempuan (puisi)

Perempuan datang atas nama cinta Bunda pergi karena cinta Digenangi air racun jingga adalah wajahmu Seperti bulan lelap tidur dihatimu Yang berdinding kelam dan kedinginan Ada apa dengannya Meninggalkan hati untuk dicaci Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa Ada apa dengan cinta Tapi aku pasti akan kembali Dalam satu purnama Untuk mempertanyakan kembali cintanya Bukan untuknya Bukan untuk siapa Tapi untukku Karena aku ingin kamu Itu saja Rako Prijanto

Jumat, 18 Mei 2012

Tiba-tiba Nulis

Ia masih terdiam. Sedari tadi ia duduk di kursi itu, tak berkata apapun padahal didepannya ada banyak orang yang sedang menunggunya mengatakan sesuatu. Ia masih saja teguh dengan sikapnya malam itu. Suasana sangat hening. Semuanya diam tak bersuara. Tak lama kemudian, ia berkata , “ini sulit bagiku”. Hanya itu yang ia katakan. Kami pun hanya bisa bertanya-tanya dan menebak-nebak karena sampai kapanpun ia takkan mengatakan yang sebenarnya. Itu sudah menjadi keputusannya. Kami tak bisa mengelak. Hari-hari pun berjalan dengan sangat datar, tak ada kabar lagi tentangnya. Aku yang berusaha setiap hari menanyakan kabarnya saat itu juga tak mendapat yang kuharapkan. Pesanku ke hpnya mungkin tak ia hiraukan atau mungkin ia sedang tidak bisa membuka hapenya. Aku masih saja menunggu pesan masuk ke hapeku, tentu kabarnya yang kutunggu. Entah, temanku yang lain menunggu atau tidak, aku tak peduli. Ini bukan yang pertama, ini sudah berlangsung berulang-ulang. Kalau dikatakan capek, lelah, iya… sangat lelah. Tapi aku berusaha menyingkirkan rasa lelah itu. Aku hanya tak ingin ia terlalu lama terpuruk. Aku pun belum bisa membuatnya bahagia dengan hidupnya. Entah kenapa aku kadang berlebihan menghadapinya padahal kadang ia tak butuh itu. Harus bagaimanakah aku yang lemah ini? Tak mau menyalahkan keadaan dan siapapun, namun pikiran ini begitu berat sebelah kadang. Sungguh, ini sebenarnya bisa diatasi namun semuanya terasa begitu sulit. Hingga suatu kali, ada pesan masuk ke hapeku. Itu darinya. Ia berkata, “aku baik-baik saja”. Lalu ia menyampaikan rasa rindunya pada kami dengan bahasanya. Aku pun menyampaikan kepada teman-temanku dan teman-temannya juga tentunya. Aku hanya bisa menyampaikannya karena saat itu, hanya itu yang sedang ia inginkan. Beberapa waktu setelah pesan itu, ia mengirim sms lagi, bunyinya, “apa ada salahku pada kalian yang belum kalian maafkan?  ”. Ini bukan yang kuinginkan walau ini keinginannya. Kalimat itu sering kudengar darinya, dan saat itu ia mengatakannya lagi. Aku menjawab sekenanya, kuanggap itu hanya angin lalu. Lambat laun pun ia memberiku banyak tanda yang menjelaskan itu masalahnya. Aku pun mulai bisa menebak apa yang sebenarnya ia maksud. Sungguh, aku tak mau berprasangka, aku bahkan takut dengan prasangkaku sendiri. Rasanya, ada batu besar yang ada di dalam tubuhku yang siap menghancurkan organ-organ di dalam tubuhku. Entah kenapa, prasangka ini semakin lama semakin menunjukkan tanda-tanda kebenaran, kenyataan yang sesungguhnya. Jika ini benar, maka rasa itu mungkin juga rasaku, hanya berbeda posisi. Hatiku entah sudah seperti apa jika mengingat perasaan-perasaan itu lagi. Mencoba melupakan apa yang sudah terjadi tapi itu begitu sulit, benar-benar sulit. Ini menyakitkan. Tak mungkin terlalu lama dalam ketidakpastian ini. Alloh…. Engkaulah sebaik-sebaik penolong dan pelindung. Aku merasa hina di hadapanMu. Aku kotor Ya Rabb. Apalah yang mampu mencegah ini semua. Alloh, biarkanlah kami hanya berharap padaMu saja, bukan berharap pada makhluk. Astaghfirullah… ampuni aku Ya Alloh. Diri ini sungguh tak pantas dengan semua nikmat yang Engkau Beri… Kuatkan hati ini hanya padaMu saja Ya Rabb, buat ku melupakan apapun yang membuatku berpaling dariMu. Biarlah kutahu hatinya, ia tak perlu tahu hatiku. Toh, takkan ada gunanya juga. Biar semuanya berlalu dengan waktu. Apapun yang terjadi nanti itu sudah kehendakNya. Semoga hati ini masih bisa bertahan sampai akhir. Aku tak mau sama sekali berusaha menjauh agar tak sakit hati. Justru mungkin sakit hati akan mudah menyerang jika berlaku seperti itu. Jangan kau kira cinta datang Dari keakraban dan pendekatan yang tekun Cinta adalah putera dari kecocokan jiwa Dan jikalau itu tiada Cinta takkan pernah tercipta Dalam hitungan tahun bahkan millennia _Kahlil Gibran_ Meski sejatinya adalah anugerah Terkadang cinta memilih takdirnya sendiri Kerispatih-kesedihanku Sepinya hari yang kulewati Tanpa ada dirimu yang menemani Sunyi kurasa dalam hidupku Tak mampu aku untuk menempa Masih kuingat indah senyummu Yang selalu membuatku mengenangmu Terbawa aku dalam sedihku Tak sadar kini kau tak di sini Engkau masih yang terindah Indah di dalam hatiku Mengapa kisah kita berakhir yang seperti kini

Senin, 14 Mei 2012

Menjalani dengan hati

Melakukan sesuatu dengan hati. Bukan hal yang mudah, namun jika sesuatu itu benar-benar disukai dan dicinta, maka itu hal yang sangat mudah. Mencintai profesi atau pekerjaan harus ditumbuhkan dari awal karena hidup bukan hanya untuk bekerja. Manusia dengan segenap potensi yang ada dalam dirinya harus berkembang dan tumbuh menjadi pribadi yang dahsyat. Semua orang pasti ingin meraup sukses dalam hidupnya. Sukses apapun yang menjadi jiwanya seharusnya. Sukses tak hanya bisa diraih dengan bekerja, menjadi pegawai yang berpenghasilan tinggi. Namun sukses lebih dari itu, menjiwai setiap detik pekerjaannya, mencintai setiap lelah yang dirasa ketika bekerja. Orang dikatakan berhasil ketika ia mampu memadukan hati dan jiwanya dengan pekerjaan yang sedang dijalani. Hasil pun tak akan seburuk yang terfikirkan. Menjadi dahsyat itu keharusan. Profesi apapun yang kita pilih harus men”dahsyat”kan diri kita karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Tentu bukan hanya dahsyat untuk diri sendiri saja namun dahsyat untuk orang lain. Orang yang sukses atau berhasil adalah yang berpengaruh di sekitarnya, walaupun ia hanya bisa memberi senyuman. Ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak nyaman, maka saat itu hati dan jiwa kita tidak ada di sana, entah menginginkan berada dimana. Kebesaran hati dan jiwa lah yang bisa mengatasi rasa tidak nyaman itu. Berbesar hati itu melebihi orang yang sabar, karena ia mampu menaklukkan emosinya dengan berbesar hati. Begitu terinspirasi dengan film “Ice Princess”. Film yang menceritakan seorang gadis berbakat dalam sains dan berseluncur. Hati dan jiwanya ada dalam dirinya sebagai seorang sebagai peseluncur es, walaupun ia juga sangat pintar matematika, fisika, dsb namun akhirnya ia mengorbankan beasiswa Harvard nya untuk ikut kompetisi “ice skating”. Sungguh, pengorbanan yang luar biasa. Walau dalam film tersebut, ia yang bernama Casey tidak menang dalam kompetisi itu namun ia berhasil meraih nilai yang sejajar dengan pesaing lain yang sudah lama berlatih menjadi peseluncur es. Casey memulai bakatnya tidak dengan berlatih namun berseluncur adalah kegemarannya. Ia baru berlatih setelah ia menyadari bahwa ia memiliki bakat untuk itu. Begitulah perjalanan hidup manusia, memang harus ditentukan dan dipilih sendiri apa yang akan dijalani ke depannya. Berani memilih mau jadi apa, ingin jadi apa. Kita juga diajarkan belajar mencintai dan menjiwai setiap hal yang melibatkan diri kita padanya. Selayaknya kita melakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan. Kalau tidak cinta, maka lebih baik tinggalkan saja, temukan cinta dan jiwa di tempat lain. Selagi masih bisa memilih mau jadi apa dan akan berbuat apa, maka pilihlah. Pilihan hidup dan jalan hidup terbentang luas di cakrawala kehidupan. Pilihlah apa yang menjadi jiwa kita di dalamnya, katakan pada orang lain ketika hal itu benar-benar ingin diraih. Memiliki mimpi itu adalah hal yang niscaya, bukan suatu hal yang tabu. Maka, katakanlah pada dunia tentang mimpimu, agar dapat membantumu mewujudkan mimpi itu perlahan-lahan. Punya kamar kan? Ada dindingnya? Jangan penuhi dinding kamarmu dengan gambar-gambar yang tak memberi efek positif dalam dirimu. Sekarang, siapkan kertas putih besar, A3 atau seberapapun lah, tuliskan mimpimu di sana. Tulislah sebanyak-banyaknya. Tak perlu malu pada orang tuamu, saudaramu, atau teman kosmu. Tulislah dengan segenap hatimu dan pajang di dinding kamarmu. Hal ini akan benar-benar memberi energi positif dalam dirimu untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Karena dengan itu, kau pun dapat membaca setiap hari mimpi yang sudah kau tuliskan. Tentunya kau perlu usaha dan doa untuk mewujudkannya, serta keyakinan dan tekad baja untuk menjadikan mimpimu benar-benar akan kau raih. Energi positif tidak cukup bisa membantu jika tak diiringi dengan usaha. Usaha itu adalah keharusan bagi kita untuk melaksanakannya jika kita benar-benar ingin mimpi itu terwujud. Usaha itu adalah bagaimana upaya kita dalam menciptakan momentum untuk munculnya sedikit percikan mimpi yang akan jadi nyata. Kita harus menciptakan momentum, bukan menunggu momentum. Kita tak boleh kalah dengan kemalasan dan ketidakpercayadirian kita. Kedua hal itu harus disingkirkan jauh-jauh dari hidup kita. Mereka hanya akan membuat kita semakin terlena dengan keadaan dan stagnan dalam hidup. Kata Giring “Nidji” dalam syair lagunya, jangan berhenti mewarnai jutaan mimpi di bumi….. Manusia diciptakan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, bagi umat, orang banyak. Maka, manusia harus punya banyak mimpi dan obsesi. Memiliki mimpi dan obsesi adalah jalan menghidupkan hati dan jiwa sebagai seorang insan dan hamba. Seseorang yang tak punya cita-cita atau mimpi akan seperti manusia yang tak punya arah dan jalan hidup. Hidupnya mengalir seperti air, tentunya ke bawah, karena tak mungkin air mengalir ke atas. Ada pepatah mengatakan, “berpikirlah maka kau ada”, manusia diberi kelebihan akal dan nurani untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Ia harus berfikir bagaimana caranya mewujudkan mimpinya itu. Ia menggunakan akal dan nuraninya untuk mempertemukan kehendak hatinya dengan kehendak Sang Pencipta.

Minggu, 13 Mei 2012

Akhirnya, menulis lagi

Tak ada yang bisa menyalahkan perasaan dan hati yang sudah terpaut. Bisa dikatakan itu anugerah namun ketika semakin lama terpaut dan berharap itulah yang salah. Manusia sudah dilahirkan dengan fitrahnya untuk bisa menyayangi, mencintai, merasa memiliki, dsb. Itu fitrah, bukan dosa. Disebut dosa ketika manusia menggunakannya untuk memenuhi keinginannya, lebih tepatnya nafsunya. Nafsu memang pengganggu yang sangat berbahaya. Ia bisa muncul kapan saja dan hilang tidak kapan saja, tergantung si “pemilik nafsu”. Ini memang hal yang sulit ketika berhadapan dengan perasaan pribadi yang bertentangan dengan apa yang seharusnya. Hanya diri sendiri dan Alloh lah yang bisa menyelamatkannya. Ketika fitrah terjadi, maka itu ujian, benar-benar ujian Alloh. Bisakah sang manusia tidak memperturutkan nafsunya, hatinya, semua yang tidak seharusnya menjadikannya lemah dan jauh dari Alloh. Layaknya seorang gadis kecil yang merengek-rengek minta es krim dan balon, manusia dewasa tak selayakya berlaku seperti gadis itu. Ketika takdir tidak mempertemukannya dengan es krim dan balon ya sudah. Itulah fitrahnya anak kecil yang sangat ambisius dengan keinginannya, tapi tidak lama, ia sudah bosan dan tak mau lagi merengek. Atau kalaupun dia sudah mendapatkan es krim dan balon, tak lama pun ia cepat melupakannya. Andai manusia dewasa juga bisa melakukannya pasti semua orang di dunia ini tak akan banyak yang terpuruk karena nafsu mereka sendiri. Semua yang sudah tertulis dalam takdir Alloh adalah baik untuk manusia. Buruk itu hanya pandangan dan persepsi manusia saja (kata Ustadz Deden di MT 3). Manusia diberi pilihan untuk memilih, mengambil takdir mana yang terbaik untuknya, bukan menentukan hasil, hanya mengusahakan yang terbaik. Hasilnya ya terserah Alloh, mau diapakan hidup kita. Namun, kadang manusia mudah menyerah dengan keadaan yang dia pikir itu sudah takdir, padahal itu masih bisa diubah dengan ikhtiar dan doa. Keadaan yang buruk itu perlu dilawan dengan usaha terbaik kita menuju keadaan yang membaik. Usaha itu seharusnya tak berhenti sampai ajal menjemput. Nasib dan takdir manusia hanya Alloh Yang Tahu, manusia hanya bisa berusaha, berdoa, berusaha, berdoa. Wallahu’alam.

Sabtu, 05 Mei 2012

Dalam kata-katamu, ku mengikutimu dengan semauku. Kau masih saja berbicara, baiklah akan ku dengarkan. Semua terserah padamu, ku kan mengikuti apa maumu walaupun aku sungguh tak tau apa yang harus kulakukan untuk membantumu. Aku masih setia mendengarmu, membiarkanmu berbicara, menyanyi, dan sebagainya. Entah kenapa aku tak lelah menanggapimu karena di sela-sela itu ku hanya ingin mencari tahu tentang dirimu. Kau begitu membuatku khawatir namun juga bimbang. Ini bukan semata salahmu memang, mungkin ini salahku yang terlalu ingin tahu tentangmu. Ku memang bukan yang terbaik tapi ku hanya ingin yang terbaik untukmu. Ku bukan yang kau inginkan mungkin. Aku memang hanya ingin membantumu, itu saja, mengertilah. Tak hanya aku mungkin namun teman-teman kita yang lain. Aku juga tak mau menyalahkanmu. Melihatmu setiap hari terluka, apa aku hanya diam saja, apa aku pantas untuk hanya diam? Mendengar sakitmu, keluhmu, lelahmu, serasa aku ingin menjadi apapun yang bisa meringankan sakitmu, bebanmu, lukamu. Ini memang tentang dirimu. Aku sangat mengerti dengan pilihan sikapmu, tapi aku pun tak bisa terus menerus mendiamkanmu. Sekarang entah ini kan dibawa kemana. Aku sungguh tak tahu, aku hanya berusaha membuatmu selalu tenang dan bahagia sesuai yang kau inginkan. Jika memang ini yang kau mau, ku kan menuruti. Hampir setiap hari ku membaca tulisan-tulisanmu di blog. Itu adalah salah satu caraku tau tentangmu, kondisimu saat itu. Walau kadang jarang juga kutemukan tulisan baru. Kadang aku memang bertanya-tanya tentang tulisanmu, dengan bahasamu yang tingginya selangit, ku berusaha memahami maksudmu. Bukan hal yang mudah namun lama kelamaan banyak tanya muncul di benakku setelah membaca tulisanmu. Hanya kau memang yang bisa mengerti tulisan yang kau buat sendiri. Sepanjang perjalanan ini, ku mencoba perlahan membiarkan yang terjadi. Bagaimanapun, aku juga tak mampu memaksamu. Kau pun menunjukkan sesuatu yang semakin membuatku penasaran dibuatnya. Entah apa masalahmu, aku hanya tak tahu bagaimana harus menghadapimu, apakah harus selalu berpura-pura bahagia walau sebenarnya tidak? Betapa diriku bukan sosok yang sempurna untukmu mungkin, Kadang, aku hanya mau kau tau dan menyadari bahwa masih sangat banyak yang menyayangimu, rela berkorban untuk kebaikanmu, kesembuhanmu namun tetap saja, kemauanmu saja kadang kalah dengan suatu keadaan yang masih bisa diubah.

Rabu, 14 Maret 2012

About KOREA

Korea itu unik. Budayanya sangat menarik. Entah kenapa suka banget sama pernak-pernik Korea, rumah tradisionalnya, pakaian tradisionalnya, budaya menyapanya, interaksi laki-laki dan wanita. Sungguh menarik. Bahasanya juga walaupun susah dipelajari. Musik dan lagu-lagunya juga bagus banget. Korea identik dengan sinemanya, drama Korea nya, filmnya pokoknya deh.
Kalau banyak yang bilang “demam Korea”, itu salah besar. Kalau demam Korea itu berarti hanya sementara aja suka sama Korea. Menyukai Korea itu hal yang menyenangkan. Hingga bercit-cita untuk bisa terbang ke sana, berwisata ke rumah-rumah tradisionalnya, hemmmmmmmm.
Melihat dari cerita-cerita drama Korea, mereka mengajarkan kita tentang hidup mandiri. Berjuang sendirian demi bertahan hidup. Melankolis pun jarang dimunculkan. Karakter-karakter yang dimunculkan pun sangat menarik. Ada yang sangat keras terhadap sesuatu, ada pula yang selalu tenang menghadapi kerasnya kehidupan. Budaya mereka dalam menyapa hanya dengan membungkuk itu sangat menarik, walau di Jepang juga seperti itu. Namun, tetap saja, ada nuansa berbeda ketika melihat orang-orang Korea sedang berhubungan, berinteraksi.
Walaupun sudah banyak kali menonton serial Korea, namun baru sekarang tergugah untuk menuliskannya. Banyak hal baik yang bisa kita dapat, hikmah kehidupan, gaya interaksi dan sopan santun, dsb. Semuanya begitu menarik untuk disimak.
Setelah menonton salah satu episode, mereka begitu ramah, sopan dan juga santun dalam berkomunikasi satu sama lain, baik itu lawan jenis maupun bukan. Ini memang tak bisa digeneralisir namun akan sangat menarik ketika ini kita praktekkan juga dalam keseharian kita.
1. Mereka menyapa dengan “bowing”, membungkukkan badan mereka beberapa derajat, bersalaman itu tandanya mereka sudah cukup akrab dan saling menghormati satu sama lain
2. Senyum selalu mereka sunggingkan ketika menyapa, walau kadang tak mengucap sepatah kata pun, tapi senyum sudah cukup mewakili. Jarak komunikasi mereka pun tidak terlalu dekat, itu adalah cara mereka menghargai dan menghormati orang yang baru mereka kenal atau mitra kerja mereka.
3. Di serial itu, saat salah satu tokoh penasaran dengan satu hal, ia benar-benar mencari berita sebenar-benarnya. Ia tidak mau salah duga atau sangka. Ia mencari kebenaran yang ia mau sampai rela pergi jauh-jauh. Itu adalah salah satu potongan cerita di serial itu. Ia tidak mau percaya sebelum ia menemukan bukti dari kabar yang didapatnya dari orang lain.

Senin, 20 Februari 2012

Laskar semangka Story

Berjalannya waktu tak ada yang bisa mencegah, habisnya waktu juga. Putaran jarum jam, jarum menit tak ada yang bisa menghentikan ketika jam itu masih baik-baik saja, tidak rusak. Jalan hidup seseorang juga tak dapat dicegah ketika itu memang takdirnya. Kalau sudah terjadi, maka hanya Dia lah yang menghendaki mengubah keadaan jika seseorang tak menghendaki takdir itu. Alloh sangat bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati jika itu memang kehendak-Nya.
Memiliki sahabat itu adalah aset, apalagi saudara seiman, saudara kandung sudah pasti. Aset itu sangat besar, bukan materi tapi ketenangan batin. Itu lebih dari materi sebesar apapun, uang sebanyak apapun. Ketenangan batin pun tak hanya tenang tapi nyaman, rindu, bahagia, sedih juga bisa. Satu hal yang harus dimiliki juga yaitu “percaya”. Sebagaimanapun sikap sahabat kita, tetaplah mempercayainya. Itu hal yang sulit memang kadang namun itulah sebuah hubungan. Menuntut itu bukan solusi tapi menyelami hati dan mempercayai. Sayang, tak semua orang bisa dengan mudahnya membaca pikiran, membaca hati. Kalau saja, setiap orang diberi kemampuan seperti itu, akan sangat membantu.
Masih sangat ingat, mengenal satu per satu mereka, dari awal sampai sekarang. Kedekatan yang terbangun cukup bisa mengenal karakternya. Dan….. sekarang mereka menjadi orang yang bisa dibilang hebat. Memang, sebuah amanah yang dibebankan pada mereka bukan untuk dibanggakan atau disombongkan, tapi itu adalah keniscayaan mereka ada di sana, berkontribusi demi membangun sebuah peradaban yang dirindukan.
Dari mulai wara-wiri menjadi staf sampe jadi ketua, kepala departemen, menteri, dsb. Itulah mereka. Masa kecil mereka unik. Ada yang jadi awak media, bergelut dengan kamera, recorder, laptop, hp. Ada yang sibuk dengan ide-idenya untuk dituangkan dalam bentuk tulisan oleh yang ahli menulis. Ada yang sangat bijak dengan kata-kata dan perhatiannya, berbagi senyum setiap saat, menenangkan. Ada juga yang dengan gaya yang tomboy, tapi menghibur. Ada yang dulu kukira lemah lembut tapi nyatanya ia pernah berkoar-koar dengan mega phone (baca : orasi) padahal ia wanita. Ada yang sangat semangat dengan hal-hal yang berbau politik, ia punya idealisme yang tinggi. Kemudian ada yang sangat menggebu-gebu dalam memberikan petuah, sampai kadang aku bingung mencerna apa maksudnya, bicaranya muter-muter ke sana kemari. Ada yang lebih banyak diam namun di balik itu, ia bisa juga melakukan hal yang sangat konyol. Ada yang selalu menebar senyum setiap saat, senyumnya memang manis, semangatnya begitu besar. Ada yang sangat lincah dengan sikapnya dan kata-katanya. Ia supel sampai banyak yang jatuh cinta, hihi. Ada yang begitu ahli memasak, bersenandung, pokoknya andalan koki kita. Ada yang cukup pendiam tapi tetap ada singa dalam dirinya. Orang yang tegar menurutku. Ada yang sangat dingin sedingin es, susah ditebak. Begitulah mereka, unik dengan karakter mereka, keahlian mereka masing-masing. Mengenal mereka dari kecil, beberapa tahun yang lalu, sekarang sudah menjadi “orang” semuanya.
Lani : sekretaris Edsa sampe sekretaris cabinet BEM KM 2012
Mira : dari belum berjilbab sampai jadi Koordinator Jaringan Muslimah DIY
Laras : dari staf media sampai jadi awak media terlincah di UNY
Wiwit : dari sekretaris hima sampe jadi Koakh Syiar UKKI
Aisy : dari sekretaris BEM sampe menetap sementara di Jerman sekarang
Zuyyi : dari staf BKP sampe jadi Ibu UKKI
Riska : dari staf media sampe jadi Koakh Humas UKKI
Isti : dari staf media juga sampe jadi Menkominfo BEM KM 2012
Ella : dari staf media sampe jadi Presiden KSB
Iva : dari ketua KPU, sekjen BEM SI, sampe Menteri Kajian dan riset BEM KM 2012
Naris : dari staf BKP sampe koakh BSBK dan melambung dengan nasyidnya (personil teraktif)
Sato : dari staf BSBK sampe bendahara 2 tahun di Al Huda (pekerja keras)
Lutfi : dari staf BPU sampe Ketua Al Huda, manager baretha
Nafi : dari staf PP BEM, staf BKP sampe kadept Binkad UKKI
Agil : dari staf media, kadept di hima sampe penulis “gelap” teraktif dan bergelut dengan nasyid
Hendra : dari staf PSDM BEM, staf BSBK sampe kabid BSBK

Mereka bukan apa-apa tanpa Sang Maha Berkehendak, tanpa guru yang membimbing dan tanpa perantara lainnya. Satu lagi, tanpa KEMAUAN juga tak akan berarti apa-apa. Seperti juga kita juga tak akan hidup tanpa nafas GRATIS dari-Nya.
Yuk, belajar dari mereka….. 
Wallahu’alam bis shawab.

Minggu, 19 Februari 2012

Kemarin siang-sore

Waktu siang menuju sore yang tak biasanya. Mendung sudah mulai terlihat, matahari mulai bersembunyi. Kilat dan petir yang mulai menunjukkan hebatnya, seolah mereka yang menguasai langit, mendung, awan, hujan, angkasa. Perlahan mendung pun mulai bergulat dengan kilat dan petir, mereka seakan bersaing untuk menurunkan air tawar ke bumi, yang namanya hujan.
Beberapa jam kemudian, rintik-rintik hujan, gerimis pun turun, sedikit-sedikit, kemudian air tawar pun turun dengan derasnya mengguyur bumi. Basah sudah semuanya, kuyup. Mendung sudah berdamai dengan kilat dan petir. Petir pun menggelegar sangat keras sore itu. Senja tepatnya. Senja menuju malam diiringi petir yang sangat keras, mengejutkan. Hujan pun masih turun dengan tenangnya, tak terlalu deras memang namun dingin cukup merasuk hingga sangat melenakan orang-orang yang sedang di dalam rumah. Ada yang sibuk dengan pekerjaannya, istirahatnya, nonton TV nya, dan lainnya. Masih juga tidak tergerak untuk pergi keluar rumah. Suasana yang sangat nyaman memang untuk beraktivitas di dalam rumah.
Tapi , ada rasa khawatir dalam diri akan adanya sahabat yang sedang di luar rumah. Entah ia sedang berada dimana dan melakukan apa, ia cukup was-was tapi tetap yakin bahwa Alloh pasti menjaganya. Semoga ia memang baik-baik saja.

Rabu, 08 Februari 2012

Inspirasi

Di hari ketika aku mengenalmu, aku hanya tau kau orang yang baik
Lama kelamaan, saat ku mulai tahu sedikit tentang dirimu
Masih pada persepsi yang sama, kau orang yang baik
Berselang waktu cukup lama, aku pun mulai tahu tentang dirimu lebih banyak
Tapi belum mengerti dan memahami

Melihatmu begitu bergairah dan bergelora dalam membuatku paham
Aku memang agak sulit menyelami maksudmu, perlahan ku memahaminya
Melihat guratan di wajahmu yang kadang berubah-ubah
Aku pun mulai bertanya-tanya
Memang, sulit bagiku untuk memahaminya

Seiring berjalannya waktu, mengerti dan memahami bebanmu itu memang suatu keharusan
Aku mulai tahu dari orang-orang disekitarku, yang mengenalmu dengan baik juga tentunya
aku tak berniat mencari tahu, hanya segalanya memang datang tepat pada saat aku ingin tahu
aku pun mendapatinya tidak sepenuhnya
masih banyak pertanyaan yang berkecamuk di otakku ini
aku baru memahami dengan benar-benar setahun setelah aku mendapati yang sedikit-sedikit itu
aku baru bisa memahami kenapa? Apa? Bagaimana? Lalu harus berbuat apa?

Saat belum bisa memahamimu, itu adalah masa-masa yang cukup sulit
Bagimu pasti lebih sulit
Usiamu memang lebih dari usiaku, kematanganmu pun tentunya juga lebih
Wajar, ketika memang banyak beban yang ada di pundakmu
Mengingat, aku masih sangat muda
Setelah lama waktu berselang , aku berfikir ke belakang
Bagaimana dulu kau menghadapi masalah sebesar itu
Di saat aku belum mengerti apa-apa
Hanya bisa membayangkan apa yang kau lakukan sebelum istirahat
Atau bahkan mungkin kau tak sempat istirahat?
Apa yang kau lakukan ketika kau hanya sendiri
Apa yang kau fikirkan ketika harus berhadapan dengan orang-orang
Padahal suasana hatimu sedang tidak baik
Mungkin kepalamu sedang sangat sakit, dadamu sesak
Pikiranmu melayang kemana-mana
Ku hanya bisa membayangkan jika aku menjadi dirimu saat itu
Mungkin aku tidak akan kuat
Tapi Alloh memang tak akan memberi beban yang tidak sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan hambaNya

Lalu di masa-masa ketika aku menjadi seperti dirimu
Aku pun merasakan sendiri, begitu beratnya
Walau aku tau benar, bahwa di saat kau dulu seperti itu
Jauh lebih berat di banding saat ku menjadi seperti dirimu

Sekarang pun, masih kuingat apa yang kau katakan dahulu, walau memang tak kuingat semuanya
Kau memang luar biasa
Aku bersyukur dipertemukan denganmu, diperkenalkan dan kemudian dekat denganmu
Itu semua benar-benar skenarioNya
Sangat indah,,,
Semoga akan menjadi kekal selamanya hingga perjumpaan denganNya

Untuk semua inspirator , terimakasih telah banyak menginspirasi……

#iseng-iseng nulis

Senin, 30 Januari 2012

Restu Ibu

Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk kebahagiaan anaknya, mulai dari masalah pendidikan, makanan, pakaian, dan kebutuhan lainnya, bahkan hingga masalah jodoh. Biasanya yang ribet itu adalah ibu. Ketika seorang ibu sudah melihat anak gasinya yang sudah dewasa, tentu ia merasa was-was. Siapa nantinya yang akan menikahi anak gadisnya itu. Ibu pasti punya criteria tersendiri untuk orang yang akan meminang anaknya nanti. Kalau ibu yang demokratis, ia akan membebaskan anaknya untuk memilih sendiri orang yang akan menjadi pasangan hidupnya. Kalau ibu yang sangat perfeksionis, ia akan menuntut bibit bebet bobot dari orang yang akan menikahi anaknya, mungkin akan berujung seperti nasib Siti Nurbaya yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Kalau ibu yang agak demokratis, ia akan meminta anaknya untuk memilih siapapun yang baik yang terpenting sudah berpenghasilan dan sudah memiliki rumah untuk ditinggali bersama. Itulah macam-macam karakter ibu atau orang tua mungkin. Saya pikir masih banyak lagi karakter-karakter orang tua yang menginginkan ynag terbaik untuk masa depan anaknya.
“nak, nantinya kau jika mau menikah, menikahlah dengan laki-laki yang sudah berpenghasilan dan punya rumah, agar hidupmu mapan dan sejahtera…”
Begitulah kira-kira nasehat ibu pada anak gadisnya saat itu. Gadis berusia 20 tahun itu hanya diam saja. Ia tak mengiyakan, tidak juga menentang nasehat ibunya. Ia hanya mengamini apa yang diharapkan ibunya, karena ia berpikir bahwa jodoh sudah ada yang mengatur, masalah rezeki, rumah, dsb itu bisa diusahakan. Ibunya terus saja menasehati anaknya mengenai itu. Ia memang bukan dari keluarga berada, tentu saja ibunya mengharapkan anaknya hidup dengan mudah, punya penghasilan tetap dan punya rumah tetap milik sendiri yang bisa ditempati. Ia pun hanya diam sambil terus berfikir. Ia berfikir jika nantinya laki-laki yang ia inginkan itu tidak sesuai dengan keinginan ibunya. Ia mungkin sudah berpenghasilan, namun belum punya rumah. Ia berfikir bagaimana memenangkan restu ibunya kelak. Ia berfikir sudah terlalu jauh, padahal belum ada pandangan untuk segera menikah dalam waktu dekat.
Itulah sekilas cerita tentang ibu dan anak gadisnya. Masih banyak lagi mungkin cerita-cerita seperti itu yang mungkin lebih ekstrim di luar sana. Tabiat orang tua memang sangat perfeksionis ketika itu berhubungan dengan anaknya. Itu hal yang wajar dan lumrah terjadi di kehidupan ini. Hanya komunikasi yang baik lah yang perlu dibangun ketika tidak dapat memenuhi keinginan dan harapan orang tua. Komunikasi yang baik dan intens itu perlu dibangun sejak awal karena hal itu akan membantu seorang anak memnangkan restu orang tua. Tak hanya soal jodoh sih, soal cita-cita, pendidikan, pekerjaan, profesi atau pilihan hidup yang lainnya. Semuanya itu memerlukan komunikasi sejak dini agar jalan yang kita tempuh itu diridhoi juga oleh orang tua. Ridho Alloh kan terletak pada ridho orang tua juga. Semuanya akan berjalan dengan mudah dan tak akan ada konflik yang terlalu besar kelak di masa depan.

Senin, 23 Januari 2012

tentang kita

TENTANG KITA

Hidup tak akan lepas dari pengalaman. Pengalaman adalah guru yang terbaik untuk bekal hidup kita. Sungguh, menjadi penonton itu tidaklah cukup, namun menjadi pengambil peran yang berani, berani meluangkan waktu, berkorban tenaga dan harta, berani memilih mengambil sikap, itulah yang membesarkan diri kita. Hidup akan hampa tapa pengalaman pahit dan manis. Semuanya akan terasa manis ketika kita bisa mengambil pelajaran dari setiap yang pahit itu. Pasti!
Adanya pengalaman pahit atau manis tak lepas dari yang namanya “belajar”. Belajar bukan kewajiban atau keharusan tapi keniscayaan. Belajar tak terbatas ruang dan waktu. Belajar itu bebas, tidak harus terikat. Belajar tak harus melibatkan orang-orang pintar dan cerdas, siapapun bisa, ia yang punya nurani dan hati yang teduh, ia juga yang punya gagasan bagaimana “belajar” itu seharusnya.
Pernah merasakan belajar dengan orang-orang seperti berikut ini…
1. Orang yang selalu bersemangat, gampang menangis ketika terharu atau sedih, sensitiflah, tapi kata-katanya begitu meyakinkan ketika sekali saja ia berkata-kata , ia memang luar biasa, dalam diamnya ia menyimpan sejuta semangat dalam dirinya. Setiap kali berjabat tangan dengannya, ia selalu menjabat dengan sangat erat. Gadis yang menginspirasi, ia tak lengah dalam mengurus keluarga, kuliah, dan amanahnya. Keren. Dia selalu membawa buah setiap kali kita bertemu.
2. Yang satu ini, paling sering bikin kita ketawa atau jengkel, gregetan lah, dengan cara ngomongnya, bahan bicaraannya, pokoknya bikin geregetan. Ia sering bicara tentang hal-hal yang kadang konyol. Ia yang paling sering kita sindir soal “MxxxxxH”, karena ia sering kali mengatakan membutuhkan itu. Cara bicaranya dengan tertawanya yang kadang terbahak-bahak. Hemmm. Itulah si “rempong”. Hehe. Dia yang selalu terlihat santai di antara yang lainnya. Walau mungkin beban yang di pundaknya juga berat tapi dia selalu punya cara untuk berlaku biasa saja, seolah tak ada beban.
3. Selanjutnya, ini suka bikin heboh juga, wanita yang selalu tersenyum. Senyumnya yang kadang nggak nguatin, hehe. Ini juga sering kita sindir soal “MxxxxxH”. Dia selalu bikin kita sering ketawa karena senyumnya dan candaannya. Ia selalu senyum walau masalah sedang banyak menderanya. Dia yang selalu tampil rapi, “matching”. Semangatnya dalam membantu sesama sungguh luar biasa. Ia khas dengan “senyuman” nya.
4. Wanita yang suka memimpin, tipe pemimpin, kesibukannya luar biasa. Ia selalu terlihat lelah setiap kali bertemu, tapi ia adalah orang yang sabar, masih bisa tersenyum di saat lelah. Kadang heboh sendiri juga. Salut dengan kesibukannya dan caranya membagi waktu di saat sibuk.
5. Sahabat yang satu ini cenderung pendiam, tak terlalu banyak bicara. Namun, diamnya itu benar-benar emas. Ia selalu bersemangat menghadiri majelis ilmu, apapun dan dimanapun. Dia orang yang produktif dalam menjalankan rutinitasnya. Hafalannya sudah cukup banyak. Kadang suka bercanda juga, tapi gak berlebihan seperti yang lainnya. Itulah “diam” yang emas. Ia juga sabar, jarang terlihat marah, karena kalaupun marah dia hanya diam, sulit terdeteksi sedang marah atau enggak.
6. Yang ini, selalu meontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menurut kita aneh, lucu, tapi memang dia benar-benar membutuhkan jawaban dari pertanyaannya itu. Lebih sering diam juga, tapi kalau moodnya lagi bagus, da bisa ngomong sesuka hatinya sampe bikin yang lain ketawa terbahak-bahak. Kadang kita gak ngerti dengan apa yang dia pikirkan atau yang dia bicarakan. Orang yang sangat unik. Orang yang “moody” an.
7. Yang satu ini, cukup pendiam juga tapi dia sangat baik dan sabar. Ya, karena dia sering bergelut dengan anak tk, jadi memang sangat sabar. Semangat dalam menggeluti bidangnya begitu besar sampai sekarang. It memang sesuai dnegan cita-citanya. Selal terlihat damai dan tenang ketika melihatnya, seolah tak ada beban. Tempat tinggalnya yang cukup jauh kadang tidak menyurutkannya dalam melangkah menghadiri mejelis-mejelis ilmu.
Mereka adalah inspirasi. Mereka yang telah membersamai dalam “ belajar” setahun terakhir ini. Tentu tak hanya mereka, masih banyak orang-orang yang membuatku “belajar” banyak hal. Selalu ada cerita unik tentang mereka, walau tak terekam dalam tulisan, namun terekam dalam memori itu sudah cukup.
Yuk, belajar dari setiap orang yang kita temui di sekitar kita, siapapun dia…
Sekian lama tuk mengerti
Dirimu jadi misteri yang kian terselami
Sekian jauh menilai kadang cinta tergali
Milikmu sejati
(Kla Project)


_23012012_

Jumat, 20 Januari 2012

Share experience

Seirig berjalannya waktu, tahun demi tahun telah dilewati. Belajar pun tak pernah berhenti. Saying, kadang banyak orang yang tidak sadar bahwa dia sedang atau telah belajar. Belajar memang harus diikuti kesadaran penuh. Sadar itu memang bukan hal yang mudah tapi ketika itu didukung dengan kemauan yang kuat, pasti bisa.
Beberapa tahun memang belum bisa sepenuhnya membuat kita tahu hikmah dari setiap kejadian. Menjadikan hati untuk jujur itu sangat sulit. Mengatasi hati yang porak poranda juga sulit, tergantung mau atau tidak. Selama ini, semua itu masih bisa teratasi mungkin walaupun masih ada yang tertinggal di hati seperti orang makan makanan namun masih belepotan. Itulah hidup. Tertarik pada sesuatu, seseorang atau apapun itu merupakan sebuah pilihan masing-masing. Mengelola hati lah yang sebenarnya perlu dipelajari setiap orang.
Kehidupan ini, dunia ini masih jauh dari “baik”, secara moralitas, karakter, dsb. Itu semua perlu proses untuk mencapai ke sana. Setiap orang punya karakter masing-masing. Ada yang ceria, melankolis, tegar, kuat, tangguh, unik, dan lainnya. Semua kadang begitu kompleks ketika dipertemukan dan di‘kerjasama’kan. Yang jelas setiap manusia punya yang namanya ‘hati’, yang sangat mudah sekali berubah-ubah. Apalagi ketika kondisi manusia itu sedang sangat labil. Hati yang dihinggapi nafsu bisa membahayakan dirinya.
Kok jadi ngomongin hati sih?
Next….
Suatu kali mungkin orang bisa bersemangat dalam satu hal namun sulit bersemangat untuk hal lain. Kadang itu karena factor lingkungan, emmm lebih tepatnya kenyamanan. Orang kalau mau tidur pasti memilih untuk tidur di kasur yang rapi dengan sprei, bersih, wangi. Itulah mencari kenyamanan. Begitupun ketika kita punya niat baik untuk melakukan kebaikan, pasti kita memilih di tempat yang nyaman. Namun nyaman di sini bukan berarti aman, karena dimanapun kita berada selalu ada peluang untuk tidak aman. Tak ada orang yang bisa memaksanya untuk bertindak, namun hanya dengan kesadaran diri sendiri lah yang bisa mengantarkannya pada sesuatu yang bermanfaat. Selalu ada pilihan untuk manusia, pilihan baik atau buruk, atau tengah-tengah.
Belajar itu memang proses. Benar-benar proses. Bayi belajar bicara, merangkak, berjalan, itu semua proses. Proses itu bisa berlangsung lama atau cepat tergantung orang yang menjalaninya. Proses itu kadang menyenangkan kadang menyebabkan kita jatuh, dsb. Suka duka selalu ada ketika kita ingin berproses menjadi lebih baik.
Ketika dikenalkan dengan sesuatu yang belum pernah kita tahu sebelumnya, pasti sangat sulit untuk kemudian mencernanya dengan cepat. Ya, lagi-lagi proses. Tak ada yang bisa menyalahkan ketika proses itu berlangsung sangat lama. Karena akhirnya itu kembali pada diri kita sendiri, yang menanggung resiko dari proses yang sangat lama itu.
Sudah cukup lama berproses, begitu banyak yang kudapatkan, walau kadang pahit dan manis. Semua itu menjadi satu pengalaman luar biasa yang tak akan terlupakan. Jauh dari orang tua, keluarga, tapi punya banyak keluarga di sini. Walau tiap hari selalu rindu untuk pulang ke rumah, bertemu ibu, bapak, dan lainnya. Dulu jadi anak rumahan, sekarang berani pergi kemana-mana, keluar kota, main kesana kemari, dsb.

Kamis, 12 Januari 2012

Beauty at the best time

kau lihat aku di sini seutuhnya
sendiri merasa bahagia karenamu
setelah air mata kehilangan dan juga kecewa
kini hanya satu yang ku percaya
kau membuatku bahagia



jika memang ini saatnya
mimpiku akan menjadi nyata
ku percaya kuatnya cinta
semua akan menjadi indah pada waktunya

hadirmu semangat jiwaku karenamu
kelembutan cintamu semua jawaban yang kudambakan
kini hanya satu yang ku percaya
kau membuatku bahagia


dan takkan ada kata-kata
oh jangan sembunyikan
perasaanmu saat ini

Rabu, 11 Januari 2012

A journey to heaven

Menjadi bagian darinya adalah sebuah resiko yang tentunya harus ditanggung oleh yang mau menjadi bagian darinya. Memilih untuk dan akan seperti apa pasti ada resikonya. Entah itu akan menyenangkan atau bahkan menyakitkan. Kita sendirilah yang akan menanggung resiko itu. Banyak yang tak mau ambil resiko, akhirnya ia memilih menjauh dan pergi hilang tak tau kemana rimbanya. Pilihan-pilihan dalam hidup tentu akan mendewasakan kita, pilihan yang tepat tentunya. Tepat itu bukan baik menurut pribadi kita namun TEPAT itu baik menurut Yang Punya hidup kita. Siapa lagi? Alloh SWT lah... sebagian besar orang belum bisa memilih dengan TEPAT. Akan kemana arah hidupnya nanti.
Usaha yang dilakukan ketika memilih satu hal pun juga bukan hal yang mudah. Memilih itu tidak hanya membutuhkan kenyamanan dan kesukaan namun juga kebermanfaatan. Memilih itu akan begitu mudah memang ketika pilihan itu tidak ada yang menyulitkan, tapi bersyukurlah masih diberi kesempatan untuk bisa memilih, berfikir, menemukan, mencari, dan lainnya. Mungkin ada orang yang tak pernah dihadapkan pada piliha. Ia hanya menerima apa yang sudah ditetapkan dan ia harus menjalaninya. Itu lebih sulit ketika yang ditetapkan itu tak mampu ia lakukan, tak sanggup.
Tatkala diberikan suatu pekerjaan yang jauh dari realita diri kita pasti dengan serta merta kita mengatakan ini sulit, “aku tidak bisa, aku tidak mampu”. Aku tidak berada di sana, namun harus menjalani itu , apa mungkin?
Setiap pekerjaan yang dibebankan kepada kita seharusnya kita melihatnya sebagai sebuah peluang yang akan membesarkan diri kita. Bukan malah memilih menjauh dari aktivitas itu dan menjadi orang-orang yang tak mau menanggung resiko pribadi. Itulah manusia. Ia kadang hanya memikirkan egonya sendiri daripada menghabiskan waktu untuk memikirkan orang lain, umat. Hidup yang diberikan Alloh kepada manusia adalah waktu yang sangat berharga. Karena, hidup Cuma sekali kan, di dunia, Cuma sekali jadi anak kecil, dewasa, tua, akhirnya kembali ke alam yang sebenarnya, kehidupan abadi. Namun, sayangnya masih banyak orang yang cuek, apatis, acuh dengan keadaan sekitar, lingkungan, orang-orang, dll. Itu menjadi hal yang sangat berbahaya jika semua manusia memilih untuk hidup seperti itu.
Mari berusaha ikhlas dengan apapun yang dibebankan kepada kita, toh awalnya itu pilihan kita juga, dan sekarang bukan saatnya untuk lar menjauh, namun mencari sebanyak-banyak ilmu untuk menjalani pekerjaan-pekerjaan besar yang sudah menanti kita. Walau bukan hal yang mudah, namun itulah seninya, walau itu tidak sesuai dengan diri kita, namun itulah peliknya. Dimanapun itu, karya lah yang harus kita buat. Menjadi apapun kita, umat menunggu karya-karya besar kita untuk mereka.
Manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah (pemimpin). Dunia tentunya. Diawali dengan keberadaan kita masing-masing. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.
Semangat Berkarya!

#semoga menginspirasi (refleksi perjalanan 3 tahun terakhir)

Jumat, 06 Januari 2012

my note,, nih

Berjalan melihat sekeliling. Ada taman di tengah dan tepi jalan. Di ujung sana ada lapangan yag sangat luas. Banyak anak-anak dan orang-orang sedang bermain di sana seolah tak peduli dengan orang lain di sekitar mereka. Ia berhenti sejenak, memandang kejauhan, matanya tak ingin lepas dari apa yang sedang ia lihat itu. Ia diam sambil berfikir sejenak, membiarkan pikirannya melayang entah kemana. Tiba-tiba saja ia teringat pada tugas-tugasnya dan pekerjaannya yang belum selesai juga. Ia berfikir mendalam, apa yang harus ia lakukan untuk menyelesaikannya.
Ia hanya sendiri. Pantas saja, sulit sekali baginya menemukan jalan keluar dari persoalannya. Ya..persoalan yang sedang menghimpitnya, memaksanya untuk berfikir keras. Ia pun melanjutkan jalannya ke rumah yang akan ia tuju. Masih begitu jauh rupanya namun ia nikmati saja, sekaligus jalan-jalan, sendirian pula.
Ia merasakan sekelilingnya sepi setelah itu. Memang sangat sepi. Hanya di tempat yang a lewati tadi saja yang begitu ramai. Setelah itu, hanya tersisa beberapa orang saja yang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sampai rumahnya pun, sepi juga. Kadang ia merasa senang dalam suasana seperti itu karena ketika ramai hanya akan mengusiknya. Namun tak selamanya ia suka sepi. Bersama banyak teman dan sahabat juga sangat membahagiakan baginya.
Dewasa harus menjadi pilihan pertamanya, namun tetap menjadi dirinya yang apa adanya. Seperti judul lagu “Just the way you are”. Lama sudah ia berada di kapal yang cukup berat melangkah walau sedikit penumpangnya. Ia memang bukan nahkodanya, namun ia turut bertanggungjawab atas kemana arah kapal itu kan menuju. Ia bukan yang pertama, namun ia hanya yang terkecil dari sekian penumpang yang ada.