Selasa, 16 Oktober 2012

Just for you

Bahwa, di setiap jalan pasti ada ujung, kamu pasti percaya itu, kita semua. Tak akan ada yang sia-sia jika kita mau berusaha menemukan ujung jalan yang indah. Sekian lama kita menjalin hubungan, kau pun semakin dewasa, belajar banyak hal. Aku bahkan kalah darimu. Kau mampu menguatkan dirimu. Lambat laun, ku lihat kau sering murung, entah kenapa aku tak mengerti apa yang terjadi. semakin hari, semakin menjadi,. kulihat kau menangis sangat lama, berjam-jam. Hingga aku pun kehilangan cara menenangkanmu, menghentikan tangismu. Tangismu semakin keras, meledak-ledak, dadamu semakin sesak aku tahu itu. Tapi aku sampai tak habis pikir kau bisa seperti itu. Ya, karena aku belum tahu apa masalahmu. apa yang sudah terjadi. Hatiku pun semakin berkecamuk, entah apa, setelah aku tahu apa masalahmu, sakit memang rasanya, bagai diiris sembilu. ini memang sangat berat bagimu. Aku tahu. ini bukan hal yang bisa dengan mudah kau hadapi. namun aku percaya, dan kau pun harus yakin bahwa skenario Alloh tak akan pernah salah. Kau harus yakin dengan itu, kau pun bisa bahagia entah apapun yang akan terjadi di depan sana. Kita harus sama-sama bahagia :)

Minggu, 30 September 2012

Perahu Kertas

Perahu kertasku kan melaju Membawa surat cinta bagimu Kata-kata yang sedikit gila Tapi ini adanya Perahu kertas mengingatkanku Betapa ajaib hidup ini Mencari-cari tambatan hati Kau sahabatku sendiri Hidupkan lagi mimpi-mimpi Cinta-cinta (Cita-cita) Cinta-cinta Yang lama kupendam sendiri Berdua ku bisa percaya Ku bahagia kau telah terlahir di dunia Dan kau ada di antara milyaran manusia Dan ku bisa dengan radarku Menemukanmu Tiada lagi yang mampu berdiri Halangi rasaku Cintaku padamu Ku bahagia kau telah terlahir di dunia Dan kau ada di antara milyaran manusia Dan ku bisa dengan radarku Menemukanmu Setiap orang berhak bahagia. Ia boleh memilih apapun untuk hidupnya di masa depan. Mendengar lagu ‘perahu kertas’ begitu menyejukkan, terlepas dengan apa makna yang dimaksud sang pencipta lagu, rasanya bahagia sekali seperti bait reff lagu itu. Entah kenapa, mungkin karena musiknya yang ringan membawa kenikmatan tersendiri untuk mendengarnya berulang-ulang. Bahagia. Satu kata yang pasti diinginkan oleh setiap orang. Mana ada orang yang tidak mau bahagia? Sehina-hina apapun dirinya, pasti ia punya naluri dan hasrat untuk bahagia. Tak hanya persoalan rasa, hati namun jiwa dan raga semuanya bahagia. Bukan karena harta, pasangan, keluarga atau apapun yang ada di sekitar namun lebih dari semua itu. Makna bahagia begitu banyak dan kompleks mungkin. Ada banyak orang yang selalu tampak bahagia walau sedang didera bertubi-tubi masalah. Ada juga yang memilih sendiri menyelesaikan kesedihannya dengan menjauh dari teman-temannya yang biasa bersamanya. Bahagianya seorang yang sedang jatuh cinta saja membuat dirinya melayang-layang. Bahagia karena berhasil dalam meraih cita-citanya juga membuatnya semakin melambung. Bahagia bukan hal yang sulit diraih jika kita mau memaknai sebenar-benar bahagia. Energi-energi dalam diri kita tak akan habis jika hanya melakukan hal itu. Sebenar-benar bahagia adalah ketika kita menyadari betapa teraturnya hidup yang sudah kita jalani, dengan sekian banyak hal yang mungkin memusingkan, namun lebih banyak hal yang membuat kita takjub dan kagum. Siapa lagi yang membuat hidup kita teratur jika bukan Tuhan kita sendiri. Sang Pencipta semesta ini menguasai segala hal yang ada di jagad raya ini. Ia lebih memiliki hak untuk mengatur seluruh kehidupan ini karena Ia lah Sang Pemilik. Di saat kita jatuh pun, tak pernah ada anugerah yang lepas dari kita. Saat masalah begitu pelik, tak tahu harus melanjutkan hidup kemana, Tuhan masih memberi kesempatan kita untuk berfikir, merenung. Saat terjatuh sangat dalam, Tuhan masih memberikan begitu banyak teman yang setia menemani. Semuanya masih ada di sekitar kita. Apa yang kita butuhkan terhidang di depan mata. Hanya kadang kita lah yang tak mampu menemukan itu semua dan menganggapnya sebagai anugerah. Di setiap peristiwa, di setiap episode perjalanan, akan selalu ada liku-liku yang tak mampu kita cegah ketika itu sudah menjadi kehendak-Nya. Manusia memang hanya berhak ikhlas menerima semua itu. ia tak berhak protes, membantah, memberontak. Emang siapa manusia? Ia hanya butiran debu yang tak berkuasa apapun tanpa adanya Tuhan.

Selasa, 25 September 2012

WE

Kita berdiri di tempat yang sama memandang langit yang sama menikmati senja yang juga sama menyambut pagi yang suasananya pun tak jauh berbeda Kita lahir dari keluarga yang berbeda namun kita tercipta dari Tuhan yang sama hati kita terpaut Semua tentang kita tak akan ada habisnya hampir setiap hari kita berdiskusi hal yang membuatku bersemangat kita membuat satu momen yang cukup indah untuk dikenang namun akhirnya aku menyadari tak selamanya kita bisa bersama memiliki momen bersama lagi

Perempuan (puisi)

Perempuan datang atas nama cinta Bunda pergi karena cinta Digenangi air racun jingga adalah wajahmu Seperti bulan lelap tidur dihatimu Yang berdinding kelam dan kedinginan Ada apa dengannya Meninggalkan hati untuk dicaci Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa Ada apa dengan cinta Tapi aku pasti akan kembali Dalam satu purnama Untuk mempertanyakan kembali cintanya Bukan untuknya Bukan untuk siapa Tapi untukku Karena aku ingin kamu Itu saja Rako Prijanto

Jumat, 18 Mei 2012

Tiba-tiba Nulis

Ia masih terdiam. Sedari tadi ia duduk di kursi itu, tak berkata apapun padahal didepannya ada banyak orang yang sedang menunggunya mengatakan sesuatu. Ia masih saja teguh dengan sikapnya malam itu. Suasana sangat hening. Semuanya diam tak bersuara. Tak lama kemudian, ia berkata , “ini sulit bagiku”. Hanya itu yang ia katakan. Kami pun hanya bisa bertanya-tanya dan menebak-nebak karena sampai kapanpun ia takkan mengatakan yang sebenarnya. Itu sudah menjadi keputusannya. Kami tak bisa mengelak. Hari-hari pun berjalan dengan sangat datar, tak ada kabar lagi tentangnya. Aku yang berusaha setiap hari menanyakan kabarnya saat itu juga tak mendapat yang kuharapkan. Pesanku ke hpnya mungkin tak ia hiraukan atau mungkin ia sedang tidak bisa membuka hapenya. Aku masih saja menunggu pesan masuk ke hapeku, tentu kabarnya yang kutunggu. Entah, temanku yang lain menunggu atau tidak, aku tak peduli. Ini bukan yang pertama, ini sudah berlangsung berulang-ulang. Kalau dikatakan capek, lelah, iya… sangat lelah. Tapi aku berusaha menyingkirkan rasa lelah itu. Aku hanya tak ingin ia terlalu lama terpuruk. Aku pun belum bisa membuatnya bahagia dengan hidupnya. Entah kenapa aku kadang berlebihan menghadapinya padahal kadang ia tak butuh itu. Harus bagaimanakah aku yang lemah ini? Tak mau menyalahkan keadaan dan siapapun, namun pikiran ini begitu berat sebelah kadang. Sungguh, ini sebenarnya bisa diatasi namun semuanya terasa begitu sulit. Hingga suatu kali, ada pesan masuk ke hapeku. Itu darinya. Ia berkata, “aku baik-baik saja”. Lalu ia menyampaikan rasa rindunya pada kami dengan bahasanya. Aku pun menyampaikan kepada teman-temanku dan teman-temannya juga tentunya. Aku hanya bisa menyampaikannya karena saat itu, hanya itu yang sedang ia inginkan. Beberapa waktu setelah pesan itu, ia mengirim sms lagi, bunyinya, “apa ada salahku pada kalian yang belum kalian maafkan?  ”. Ini bukan yang kuinginkan walau ini keinginannya. Kalimat itu sering kudengar darinya, dan saat itu ia mengatakannya lagi. Aku menjawab sekenanya, kuanggap itu hanya angin lalu. Lambat laun pun ia memberiku banyak tanda yang menjelaskan itu masalahnya. Aku pun mulai bisa menebak apa yang sebenarnya ia maksud. Sungguh, aku tak mau berprasangka, aku bahkan takut dengan prasangkaku sendiri. Rasanya, ada batu besar yang ada di dalam tubuhku yang siap menghancurkan organ-organ di dalam tubuhku. Entah kenapa, prasangka ini semakin lama semakin menunjukkan tanda-tanda kebenaran, kenyataan yang sesungguhnya. Jika ini benar, maka rasa itu mungkin juga rasaku, hanya berbeda posisi. Hatiku entah sudah seperti apa jika mengingat perasaan-perasaan itu lagi. Mencoba melupakan apa yang sudah terjadi tapi itu begitu sulit, benar-benar sulit. Ini menyakitkan. Tak mungkin terlalu lama dalam ketidakpastian ini. Alloh…. Engkaulah sebaik-sebaik penolong dan pelindung. Aku merasa hina di hadapanMu. Aku kotor Ya Rabb. Apalah yang mampu mencegah ini semua. Alloh, biarkanlah kami hanya berharap padaMu saja, bukan berharap pada makhluk. Astaghfirullah… ampuni aku Ya Alloh. Diri ini sungguh tak pantas dengan semua nikmat yang Engkau Beri… Kuatkan hati ini hanya padaMu saja Ya Rabb, buat ku melupakan apapun yang membuatku berpaling dariMu. Biarlah kutahu hatinya, ia tak perlu tahu hatiku. Toh, takkan ada gunanya juga. Biar semuanya berlalu dengan waktu. Apapun yang terjadi nanti itu sudah kehendakNya. Semoga hati ini masih bisa bertahan sampai akhir. Aku tak mau sama sekali berusaha menjauh agar tak sakit hati. Justru mungkin sakit hati akan mudah menyerang jika berlaku seperti itu. Jangan kau kira cinta datang Dari keakraban dan pendekatan yang tekun Cinta adalah putera dari kecocokan jiwa Dan jikalau itu tiada Cinta takkan pernah tercipta Dalam hitungan tahun bahkan millennia _Kahlil Gibran_ Meski sejatinya adalah anugerah Terkadang cinta memilih takdirnya sendiri Kerispatih-kesedihanku Sepinya hari yang kulewati Tanpa ada dirimu yang menemani Sunyi kurasa dalam hidupku Tak mampu aku untuk menempa Masih kuingat indah senyummu Yang selalu membuatku mengenangmu Terbawa aku dalam sedihku Tak sadar kini kau tak di sini Engkau masih yang terindah Indah di dalam hatiku Mengapa kisah kita berakhir yang seperti kini

Senin, 14 Mei 2012

Menjalani dengan hati

Melakukan sesuatu dengan hati. Bukan hal yang mudah, namun jika sesuatu itu benar-benar disukai dan dicinta, maka itu hal yang sangat mudah. Mencintai profesi atau pekerjaan harus ditumbuhkan dari awal karena hidup bukan hanya untuk bekerja. Manusia dengan segenap potensi yang ada dalam dirinya harus berkembang dan tumbuh menjadi pribadi yang dahsyat. Semua orang pasti ingin meraup sukses dalam hidupnya. Sukses apapun yang menjadi jiwanya seharusnya. Sukses tak hanya bisa diraih dengan bekerja, menjadi pegawai yang berpenghasilan tinggi. Namun sukses lebih dari itu, menjiwai setiap detik pekerjaannya, mencintai setiap lelah yang dirasa ketika bekerja. Orang dikatakan berhasil ketika ia mampu memadukan hati dan jiwanya dengan pekerjaan yang sedang dijalani. Hasil pun tak akan seburuk yang terfikirkan. Menjadi dahsyat itu keharusan. Profesi apapun yang kita pilih harus men”dahsyat”kan diri kita karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Tentu bukan hanya dahsyat untuk diri sendiri saja namun dahsyat untuk orang lain. Orang yang sukses atau berhasil adalah yang berpengaruh di sekitarnya, walaupun ia hanya bisa memberi senyuman. Ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak nyaman, maka saat itu hati dan jiwa kita tidak ada di sana, entah menginginkan berada dimana. Kebesaran hati dan jiwa lah yang bisa mengatasi rasa tidak nyaman itu. Berbesar hati itu melebihi orang yang sabar, karena ia mampu menaklukkan emosinya dengan berbesar hati. Begitu terinspirasi dengan film “Ice Princess”. Film yang menceritakan seorang gadis berbakat dalam sains dan berseluncur. Hati dan jiwanya ada dalam dirinya sebagai seorang sebagai peseluncur es, walaupun ia juga sangat pintar matematika, fisika, dsb namun akhirnya ia mengorbankan beasiswa Harvard nya untuk ikut kompetisi “ice skating”. Sungguh, pengorbanan yang luar biasa. Walau dalam film tersebut, ia yang bernama Casey tidak menang dalam kompetisi itu namun ia berhasil meraih nilai yang sejajar dengan pesaing lain yang sudah lama berlatih menjadi peseluncur es. Casey memulai bakatnya tidak dengan berlatih namun berseluncur adalah kegemarannya. Ia baru berlatih setelah ia menyadari bahwa ia memiliki bakat untuk itu. Begitulah perjalanan hidup manusia, memang harus ditentukan dan dipilih sendiri apa yang akan dijalani ke depannya. Berani memilih mau jadi apa, ingin jadi apa. Kita juga diajarkan belajar mencintai dan menjiwai setiap hal yang melibatkan diri kita padanya. Selayaknya kita melakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan. Kalau tidak cinta, maka lebih baik tinggalkan saja, temukan cinta dan jiwa di tempat lain. Selagi masih bisa memilih mau jadi apa dan akan berbuat apa, maka pilihlah. Pilihan hidup dan jalan hidup terbentang luas di cakrawala kehidupan. Pilihlah apa yang menjadi jiwa kita di dalamnya, katakan pada orang lain ketika hal itu benar-benar ingin diraih. Memiliki mimpi itu adalah hal yang niscaya, bukan suatu hal yang tabu. Maka, katakanlah pada dunia tentang mimpimu, agar dapat membantumu mewujudkan mimpi itu perlahan-lahan. Punya kamar kan? Ada dindingnya? Jangan penuhi dinding kamarmu dengan gambar-gambar yang tak memberi efek positif dalam dirimu. Sekarang, siapkan kertas putih besar, A3 atau seberapapun lah, tuliskan mimpimu di sana. Tulislah sebanyak-banyaknya. Tak perlu malu pada orang tuamu, saudaramu, atau teman kosmu. Tulislah dengan segenap hatimu dan pajang di dinding kamarmu. Hal ini akan benar-benar memberi energi positif dalam dirimu untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Karena dengan itu, kau pun dapat membaca setiap hari mimpi yang sudah kau tuliskan. Tentunya kau perlu usaha dan doa untuk mewujudkannya, serta keyakinan dan tekad baja untuk menjadikan mimpimu benar-benar akan kau raih. Energi positif tidak cukup bisa membantu jika tak diiringi dengan usaha. Usaha itu adalah keharusan bagi kita untuk melaksanakannya jika kita benar-benar ingin mimpi itu terwujud. Usaha itu adalah bagaimana upaya kita dalam menciptakan momentum untuk munculnya sedikit percikan mimpi yang akan jadi nyata. Kita harus menciptakan momentum, bukan menunggu momentum. Kita tak boleh kalah dengan kemalasan dan ketidakpercayadirian kita. Kedua hal itu harus disingkirkan jauh-jauh dari hidup kita. Mereka hanya akan membuat kita semakin terlena dengan keadaan dan stagnan dalam hidup. Kata Giring “Nidji” dalam syair lagunya, jangan berhenti mewarnai jutaan mimpi di bumi….. Manusia diciptakan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, bagi umat, orang banyak. Maka, manusia harus punya banyak mimpi dan obsesi. Memiliki mimpi dan obsesi adalah jalan menghidupkan hati dan jiwa sebagai seorang insan dan hamba. Seseorang yang tak punya cita-cita atau mimpi akan seperti manusia yang tak punya arah dan jalan hidup. Hidupnya mengalir seperti air, tentunya ke bawah, karena tak mungkin air mengalir ke atas. Ada pepatah mengatakan, “berpikirlah maka kau ada”, manusia diberi kelebihan akal dan nurani untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Ia harus berfikir bagaimana caranya mewujudkan mimpinya itu. Ia menggunakan akal dan nuraninya untuk mempertemukan kehendak hatinya dengan kehendak Sang Pencipta.

Minggu, 13 Mei 2012

Akhirnya, menulis lagi

Tak ada yang bisa menyalahkan perasaan dan hati yang sudah terpaut. Bisa dikatakan itu anugerah namun ketika semakin lama terpaut dan berharap itulah yang salah. Manusia sudah dilahirkan dengan fitrahnya untuk bisa menyayangi, mencintai, merasa memiliki, dsb. Itu fitrah, bukan dosa. Disebut dosa ketika manusia menggunakannya untuk memenuhi keinginannya, lebih tepatnya nafsunya. Nafsu memang pengganggu yang sangat berbahaya. Ia bisa muncul kapan saja dan hilang tidak kapan saja, tergantung si “pemilik nafsu”. Ini memang hal yang sulit ketika berhadapan dengan perasaan pribadi yang bertentangan dengan apa yang seharusnya. Hanya diri sendiri dan Alloh lah yang bisa menyelamatkannya. Ketika fitrah terjadi, maka itu ujian, benar-benar ujian Alloh. Bisakah sang manusia tidak memperturutkan nafsunya, hatinya, semua yang tidak seharusnya menjadikannya lemah dan jauh dari Alloh. Layaknya seorang gadis kecil yang merengek-rengek minta es krim dan balon, manusia dewasa tak selayakya berlaku seperti gadis itu. Ketika takdir tidak mempertemukannya dengan es krim dan balon ya sudah. Itulah fitrahnya anak kecil yang sangat ambisius dengan keinginannya, tapi tidak lama, ia sudah bosan dan tak mau lagi merengek. Atau kalaupun dia sudah mendapatkan es krim dan balon, tak lama pun ia cepat melupakannya. Andai manusia dewasa juga bisa melakukannya pasti semua orang di dunia ini tak akan banyak yang terpuruk karena nafsu mereka sendiri. Semua yang sudah tertulis dalam takdir Alloh adalah baik untuk manusia. Buruk itu hanya pandangan dan persepsi manusia saja (kata Ustadz Deden di MT 3). Manusia diberi pilihan untuk memilih, mengambil takdir mana yang terbaik untuknya, bukan menentukan hasil, hanya mengusahakan yang terbaik. Hasilnya ya terserah Alloh, mau diapakan hidup kita. Namun, kadang manusia mudah menyerah dengan keadaan yang dia pikir itu sudah takdir, padahal itu masih bisa diubah dengan ikhtiar dan doa. Keadaan yang buruk itu perlu dilawan dengan usaha terbaik kita menuju keadaan yang membaik. Usaha itu seharusnya tak berhenti sampai ajal menjemput. Nasib dan takdir manusia hanya Alloh Yang Tahu, manusia hanya bisa berusaha, berdoa, berusaha, berdoa. Wallahu’alam.