Minggu, 30 September 2012
Perahu Kertas
Perahu kertasku kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya
Perahu kertas mengingatkanku
Betapa ajaib hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi
Cinta-cinta (Cita-cita)
Cinta-cinta
Yang lama kupendam sendiri
Berdua ku bisa percaya
Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku
Menemukanmu
Tiada lagi yang mampu berdiri
Halangi rasaku
Cintaku padamu
Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku
Menemukanmu
Setiap orang berhak bahagia. Ia boleh memilih apapun untuk hidupnya di masa depan. Mendengar lagu ‘perahu kertas’ begitu menyejukkan, terlepas dengan apa makna yang dimaksud sang pencipta lagu, rasanya bahagia sekali seperti bait reff lagu itu. Entah kenapa, mungkin karena musiknya yang ringan membawa kenikmatan tersendiri untuk mendengarnya berulang-ulang.
Bahagia. Satu kata yang pasti diinginkan oleh setiap orang. Mana ada orang yang tidak mau bahagia? Sehina-hina apapun dirinya, pasti ia punya naluri dan hasrat untuk bahagia. Tak hanya persoalan rasa, hati namun jiwa dan raga semuanya bahagia. Bukan karena harta, pasangan, keluarga atau apapun yang ada di sekitar namun lebih dari semua itu. Makna bahagia begitu banyak dan kompleks mungkin.
Ada banyak orang yang selalu tampak bahagia walau sedang didera bertubi-tubi masalah. Ada juga yang memilih sendiri menyelesaikan kesedihannya dengan menjauh dari teman-temannya yang biasa bersamanya.
Bahagianya seorang yang sedang jatuh cinta saja membuat dirinya melayang-layang. Bahagia karena berhasil dalam meraih cita-citanya juga membuatnya semakin melambung. Bahagia bukan hal yang sulit diraih jika kita mau memaknai sebenar-benar bahagia. Energi-energi dalam diri kita tak akan habis jika hanya melakukan hal itu. Sebenar-benar bahagia adalah ketika kita menyadari betapa teraturnya hidup yang sudah kita jalani, dengan sekian banyak hal yang mungkin memusingkan, namun lebih banyak hal yang membuat kita takjub dan kagum. Siapa lagi yang membuat hidup kita teratur jika bukan Tuhan kita sendiri. Sang Pencipta semesta ini menguasai segala hal yang ada di jagad raya ini. Ia lebih memiliki hak untuk mengatur seluruh kehidupan ini karena Ia lah Sang Pemilik.
Di saat kita jatuh pun, tak pernah ada anugerah yang lepas dari kita. Saat masalah begitu pelik, tak tahu harus melanjutkan hidup kemana, Tuhan masih memberi kesempatan kita untuk berfikir, merenung. Saat terjatuh sangat dalam, Tuhan masih memberikan begitu banyak teman yang setia menemani. Semuanya masih ada di sekitar kita. Apa yang kita butuhkan terhidang di depan mata. Hanya kadang kita lah yang tak mampu menemukan itu semua dan menganggapnya sebagai anugerah. Di setiap peristiwa, di setiap episode perjalanan, akan selalu ada liku-liku yang tak mampu kita cegah ketika itu sudah menjadi kehendak-Nya. Manusia memang hanya berhak ikhlas menerima semua itu. ia tak berhak protes, membantah, memberontak. Emang siapa manusia? Ia hanya butiran debu yang tak berkuasa apapun tanpa adanya Tuhan.
Selasa, 25 September 2012
WE
Kita berdiri di tempat yang sama
memandang langit yang sama
menikmati senja yang juga sama
menyambut pagi yang suasananya pun tak jauh berbeda
Kita lahir dari keluarga yang berbeda
namun kita tercipta dari Tuhan yang sama
hati kita terpaut
Semua tentang kita tak akan ada habisnya
hampir setiap hari kita berdiskusi hal yang membuatku bersemangat
kita membuat satu momen yang cukup indah untuk dikenang
namun akhirnya aku menyadari
tak selamanya kita bisa bersama
memiliki momen bersama lagi
Perempuan (puisi)
Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur dihatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya
Bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja
Rako Prijanto
Langganan:
Postingan (Atom)