Jumat, 18 Mei 2012
Tiba-tiba Nulis
Ia masih terdiam. Sedari tadi ia duduk di kursi itu, tak berkata apapun padahal didepannya ada banyak orang yang sedang menunggunya mengatakan sesuatu. Ia masih saja teguh dengan sikapnya malam itu. Suasana sangat hening. Semuanya diam tak bersuara.
Tak lama kemudian, ia berkata , “ini sulit bagiku”. Hanya itu yang ia katakan. Kami pun hanya bisa bertanya-tanya dan menebak-nebak karena sampai kapanpun ia takkan mengatakan yang sebenarnya. Itu sudah menjadi keputusannya. Kami tak bisa mengelak.
Hari-hari pun berjalan dengan sangat datar, tak ada kabar lagi tentangnya. Aku yang berusaha setiap hari menanyakan kabarnya saat itu juga tak mendapat yang kuharapkan. Pesanku ke hpnya mungkin tak ia hiraukan atau mungkin ia sedang tidak bisa membuka hapenya. Aku masih saja menunggu pesan masuk ke hapeku, tentu kabarnya yang kutunggu. Entah, temanku yang lain menunggu atau tidak, aku tak peduli. Ini bukan yang pertama, ini sudah berlangsung berulang-ulang. Kalau dikatakan capek, lelah, iya… sangat lelah. Tapi aku berusaha menyingkirkan rasa lelah itu. Aku hanya tak ingin ia terlalu lama terpuruk. Aku pun belum bisa membuatnya bahagia dengan hidupnya. Entah kenapa aku kadang berlebihan menghadapinya padahal kadang ia tak butuh itu.
Harus bagaimanakah aku yang lemah ini? Tak mau menyalahkan keadaan dan siapapun, namun pikiran ini begitu berat sebelah kadang. Sungguh, ini sebenarnya bisa diatasi namun semuanya terasa begitu sulit.
Hingga suatu kali, ada pesan masuk ke hapeku. Itu darinya. Ia berkata, “aku baik-baik saja”. Lalu ia menyampaikan rasa rindunya pada kami dengan bahasanya. Aku pun menyampaikan kepada teman-temanku dan teman-temannya juga tentunya. Aku hanya bisa menyampaikannya karena saat itu, hanya itu yang sedang ia inginkan.
Beberapa waktu setelah pesan itu, ia mengirim sms lagi, bunyinya, “apa ada salahku pada kalian yang belum kalian maafkan? ”. Ini bukan yang kuinginkan walau ini keinginannya. Kalimat itu sering kudengar darinya, dan saat itu ia mengatakannya lagi. Aku menjawab sekenanya, kuanggap itu hanya angin lalu.
Lambat laun pun ia memberiku banyak tanda yang menjelaskan itu masalahnya. Aku pun mulai bisa menebak apa yang sebenarnya ia maksud. Sungguh, aku tak mau berprasangka, aku bahkan takut dengan prasangkaku sendiri. Rasanya, ada batu besar yang ada di dalam tubuhku yang siap menghancurkan organ-organ di dalam tubuhku. Entah kenapa, prasangka ini semakin lama semakin menunjukkan tanda-tanda kebenaran, kenyataan yang sesungguhnya.
Jika ini benar, maka rasa itu mungkin juga rasaku, hanya berbeda posisi. Hatiku entah sudah seperti apa jika mengingat perasaan-perasaan itu lagi. Mencoba melupakan apa yang sudah terjadi tapi itu begitu sulit, benar-benar sulit. Ini menyakitkan. Tak mungkin terlalu lama dalam ketidakpastian ini.
Alloh…. Engkaulah sebaik-sebaik penolong dan pelindung. Aku merasa hina di hadapanMu. Aku kotor Ya Rabb. Apalah yang mampu mencegah ini semua. Alloh, biarkanlah kami hanya berharap padaMu saja, bukan berharap pada makhluk. Astaghfirullah… ampuni aku Ya Alloh. Diri ini sungguh tak pantas dengan semua nikmat yang Engkau Beri…
Kuatkan hati ini hanya padaMu saja Ya Rabb, buat ku melupakan apapun yang membuatku berpaling dariMu.
Biarlah kutahu hatinya, ia tak perlu tahu hatiku. Toh, takkan ada gunanya juga. Biar semuanya berlalu dengan waktu. Apapun yang terjadi nanti itu sudah kehendakNya. Semoga hati ini masih bisa bertahan sampai akhir. Aku tak mau sama sekali berusaha menjauh agar tak sakit hati. Justru mungkin sakit hati akan mudah menyerang jika berlaku seperti itu.
Jangan kau kira cinta datang
Dari keakraban dan pendekatan yang tekun
Cinta adalah putera dari kecocokan jiwa
Dan jikalau itu tiada
Cinta takkan pernah tercipta
Dalam hitungan tahun bahkan millennia
_Kahlil Gibran_
Meski sejatinya adalah anugerah
Terkadang cinta memilih takdirnya sendiri
Kerispatih-kesedihanku
Sepinya hari yang kulewati
Tanpa ada dirimu yang menemani
Sunyi kurasa dalam hidupku
Tak mampu aku untuk menempa
Masih kuingat indah senyummu
Yang selalu membuatku mengenangmu
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sini
Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir yang seperti kini
Senin, 14 Mei 2012
Menjalani dengan hati
Melakukan sesuatu dengan hati. Bukan hal yang mudah, namun jika sesuatu itu benar-benar disukai dan dicinta, maka itu hal yang sangat mudah. Mencintai profesi atau pekerjaan harus ditumbuhkan dari awal karena hidup bukan hanya untuk bekerja. Manusia dengan segenap potensi yang ada dalam dirinya harus berkembang dan tumbuh menjadi pribadi yang dahsyat. Semua orang pasti ingin meraup sukses dalam hidupnya. Sukses apapun yang menjadi jiwanya seharusnya. Sukses tak hanya bisa diraih dengan bekerja, menjadi pegawai yang berpenghasilan tinggi. Namun sukses lebih dari itu, menjiwai setiap detik pekerjaannya, mencintai setiap lelah yang dirasa ketika bekerja. Orang dikatakan berhasil ketika ia mampu memadukan hati dan jiwanya dengan pekerjaan yang sedang dijalani. Hasil pun tak akan seburuk yang terfikirkan.
Menjadi dahsyat itu keharusan. Profesi apapun yang kita pilih harus men”dahsyat”kan diri kita karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Tentu bukan hanya dahsyat untuk diri sendiri saja namun dahsyat untuk orang lain. Orang yang sukses atau berhasil adalah yang berpengaruh di sekitarnya, walaupun ia hanya bisa memberi senyuman.
Ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak nyaman, maka saat itu hati dan jiwa kita tidak ada di sana, entah menginginkan berada dimana. Kebesaran hati dan jiwa lah yang bisa mengatasi rasa tidak nyaman itu. Berbesar hati itu melebihi orang yang sabar, karena ia mampu menaklukkan emosinya dengan berbesar hati.
Begitu terinspirasi dengan film “Ice Princess”. Film yang menceritakan seorang gadis berbakat dalam sains dan berseluncur. Hati dan jiwanya ada dalam dirinya sebagai seorang sebagai peseluncur es, walaupun ia juga sangat pintar matematika, fisika, dsb namun akhirnya ia mengorbankan beasiswa Harvard nya untuk ikut kompetisi “ice skating”. Sungguh, pengorbanan yang luar biasa. Walau dalam film tersebut, ia yang bernama Casey tidak menang dalam kompetisi itu namun ia berhasil meraih nilai yang sejajar dengan pesaing lain yang sudah lama berlatih menjadi peseluncur es. Casey memulai bakatnya tidak dengan berlatih namun berseluncur adalah kegemarannya. Ia baru berlatih setelah ia menyadari bahwa ia memiliki bakat untuk itu. Begitulah perjalanan hidup manusia, memang harus ditentukan dan dipilih sendiri apa yang akan dijalani ke depannya. Berani memilih mau jadi apa, ingin jadi apa. Kita juga diajarkan belajar mencintai dan menjiwai setiap hal yang melibatkan diri kita padanya. Selayaknya kita melakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan. Kalau tidak cinta, maka lebih baik tinggalkan saja, temukan cinta dan jiwa di tempat lain.
Selagi masih bisa memilih mau jadi apa dan akan berbuat apa, maka pilihlah. Pilihan hidup dan jalan hidup terbentang luas di cakrawala kehidupan. Pilihlah apa yang menjadi jiwa kita di dalamnya, katakan pada orang lain ketika hal itu benar-benar ingin diraih. Memiliki mimpi itu adalah hal yang niscaya, bukan suatu hal yang tabu. Maka, katakanlah pada dunia tentang mimpimu, agar dapat membantumu mewujudkan mimpi itu perlahan-lahan.
Punya kamar kan? Ada dindingnya? Jangan penuhi dinding kamarmu dengan gambar-gambar yang tak memberi efek positif dalam dirimu. Sekarang, siapkan kertas putih besar, A3 atau seberapapun lah, tuliskan mimpimu di sana. Tulislah sebanyak-banyaknya. Tak perlu malu pada orang tuamu, saudaramu, atau teman kosmu. Tulislah dengan segenap hatimu dan pajang di dinding kamarmu. Hal ini akan benar-benar memberi energi positif dalam dirimu untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Karena dengan itu, kau pun dapat membaca setiap hari mimpi yang sudah kau tuliskan. Tentunya kau perlu usaha dan doa untuk mewujudkannya, serta keyakinan dan tekad baja untuk menjadikan mimpimu benar-benar akan kau raih.
Energi positif tidak cukup bisa membantu jika tak diiringi dengan usaha. Usaha itu adalah keharusan bagi kita untuk melaksanakannya jika kita benar-benar ingin mimpi itu terwujud. Usaha itu adalah bagaimana upaya kita dalam menciptakan momentum untuk munculnya sedikit percikan mimpi yang akan jadi nyata. Kita harus menciptakan momentum, bukan menunggu momentum. Kita tak boleh kalah dengan kemalasan dan ketidakpercayadirian kita. Kedua hal itu harus disingkirkan jauh-jauh dari hidup kita. Mereka hanya akan membuat kita semakin terlena dengan keadaan dan stagnan dalam hidup.
Kata Giring “Nidji” dalam syair lagunya, jangan berhenti mewarnai jutaan mimpi di bumi….. Manusia diciptakan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, bagi umat, orang banyak. Maka, manusia harus punya banyak mimpi dan obsesi. Memiliki mimpi dan obsesi adalah jalan menghidupkan hati dan jiwa sebagai seorang insan dan hamba. Seseorang yang tak punya cita-cita atau mimpi akan seperti manusia yang tak punya arah dan jalan hidup. Hidupnya mengalir seperti air, tentunya ke bawah, karena tak mungkin air mengalir ke atas. Ada pepatah mengatakan, “berpikirlah maka kau ada”, manusia diberi kelebihan akal dan nurani untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Ia harus berfikir bagaimana caranya mewujudkan mimpinya itu. Ia menggunakan akal dan nuraninya untuk mempertemukan kehendak hatinya dengan kehendak Sang Pencipta.
Minggu, 13 Mei 2012
Akhirnya, menulis lagi
Tak ada yang bisa menyalahkan perasaan dan hati yang sudah terpaut. Bisa dikatakan itu anugerah namun ketika semakin lama terpaut dan berharap itulah yang salah. Manusia sudah dilahirkan dengan fitrahnya untuk bisa menyayangi, mencintai, merasa memiliki, dsb. Itu fitrah, bukan dosa. Disebut dosa ketika manusia menggunakannya untuk memenuhi keinginannya, lebih tepatnya nafsunya. Nafsu memang pengganggu yang sangat berbahaya. Ia bisa muncul kapan saja dan hilang tidak kapan saja, tergantung si “pemilik nafsu”.
Ini memang hal yang sulit ketika berhadapan dengan perasaan pribadi yang bertentangan dengan apa yang seharusnya. Hanya diri sendiri dan Alloh lah yang bisa menyelamatkannya. Ketika fitrah terjadi, maka itu ujian, benar-benar ujian Alloh. Bisakah sang manusia tidak memperturutkan nafsunya, hatinya, semua yang tidak seharusnya menjadikannya lemah dan jauh dari Alloh.
Layaknya seorang gadis kecil yang merengek-rengek minta es krim dan balon, manusia dewasa tak selayakya berlaku seperti gadis itu. Ketika takdir tidak mempertemukannya dengan es krim dan balon ya sudah. Itulah fitrahnya anak kecil yang sangat ambisius dengan keinginannya, tapi tidak lama, ia sudah bosan dan tak mau lagi merengek. Atau kalaupun dia sudah mendapatkan es krim dan balon, tak lama pun ia cepat melupakannya. Andai manusia dewasa juga bisa melakukannya pasti semua orang di dunia ini tak akan banyak yang terpuruk karena nafsu mereka sendiri.
Semua yang sudah tertulis dalam takdir Alloh adalah baik untuk manusia. Buruk itu hanya pandangan dan persepsi manusia saja (kata Ustadz Deden di MT 3). Manusia diberi pilihan untuk memilih, mengambil takdir mana yang terbaik untuknya, bukan menentukan hasil, hanya mengusahakan yang terbaik. Hasilnya ya terserah Alloh, mau diapakan hidup kita. Namun, kadang manusia mudah menyerah dengan keadaan yang dia pikir itu sudah takdir, padahal itu masih bisa diubah dengan ikhtiar dan doa. Keadaan yang buruk itu perlu dilawan dengan usaha terbaik kita menuju keadaan yang membaik. Usaha itu seharusnya tak berhenti sampai ajal menjemput. Nasib dan takdir manusia hanya Alloh Yang Tahu, manusia hanya bisa berusaha, berdoa, berusaha, berdoa. Wallahu’alam.
Sabtu, 05 Mei 2012
Dalam kata-katamu, ku mengikutimu dengan semauku. Kau masih saja berbicara, baiklah akan ku dengarkan. Semua terserah padamu, ku kan mengikuti apa maumu walaupun aku sungguh tak tau apa yang harus kulakukan untuk membantumu.
Aku masih setia mendengarmu, membiarkanmu berbicara, menyanyi, dan sebagainya. Entah kenapa aku tak lelah menanggapimu karena di sela-sela itu ku hanya ingin mencari tahu tentang dirimu. Kau begitu membuatku khawatir namun juga bimbang. Ini bukan semata salahmu memang, mungkin ini salahku yang terlalu ingin tahu tentangmu.
Ku memang bukan yang terbaik tapi ku hanya ingin yang terbaik untukmu. Ku bukan yang kau inginkan mungkin. Aku memang hanya ingin membantumu, itu saja, mengertilah. Tak hanya aku mungkin namun teman-teman kita yang lain. Aku juga tak mau menyalahkanmu.
Melihatmu setiap hari terluka, apa aku hanya diam saja, apa aku pantas untuk hanya diam? Mendengar sakitmu, keluhmu, lelahmu, serasa aku ingin menjadi apapun yang bisa meringankan sakitmu, bebanmu, lukamu. Ini memang tentang dirimu. Aku sangat mengerti dengan pilihan sikapmu, tapi aku pun tak bisa terus menerus mendiamkanmu.
Sekarang entah ini kan dibawa kemana. Aku sungguh tak tahu, aku hanya berusaha membuatmu selalu tenang dan bahagia sesuai yang kau inginkan. Jika memang ini yang kau mau, ku kan menuruti. Hampir setiap hari ku membaca tulisan-tulisanmu di blog. Itu adalah salah satu caraku tau tentangmu, kondisimu saat itu. Walau kadang jarang juga kutemukan tulisan baru. Kadang aku memang bertanya-tanya tentang tulisanmu, dengan bahasamu yang tingginya selangit, ku berusaha memahami maksudmu. Bukan hal yang mudah namun lama kelamaan banyak tanya muncul di benakku setelah membaca tulisanmu. Hanya kau memang yang bisa mengerti tulisan yang kau buat sendiri.
Sepanjang perjalanan ini, ku mencoba perlahan membiarkan yang terjadi. Bagaimanapun, aku juga tak mampu memaksamu. Kau pun menunjukkan sesuatu yang semakin membuatku penasaran dibuatnya. Entah apa masalahmu, aku hanya tak tahu bagaimana harus menghadapimu, apakah harus selalu berpura-pura bahagia walau sebenarnya tidak?
Betapa diriku bukan sosok yang sempurna untukmu mungkin,
Kadang, aku hanya mau kau tau dan menyadari bahwa masih sangat banyak yang menyayangimu, rela berkorban untuk kebaikanmu, kesembuhanmu namun tetap saja, kemauanmu saja kadang kalah dengan suatu keadaan yang masih bisa diubah.
Langganan:
Postingan (Atom)