Minggu, 13 Mei 2012
Akhirnya, menulis lagi
Tak ada yang bisa menyalahkan perasaan dan hati yang sudah terpaut. Bisa dikatakan itu anugerah namun ketika semakin lama terpaut dan berharap itulah yang salah. Manusia sudah dilahirkan dengan fitrahnya untuk bisa menyayangi, mencintai, merasa memiliki, dsb. Itu fitrah, bukan dosa. Disebut dosa ketika manusia menggunakannya untuk memenuhi keinginannya, lebih tepatnya nafsunya. Nafsu memang pengganggu yang sangat berbahaya. Ia bisa muncul kapan saja dan hilang tidak kapan saja, tergantung si “pemilik nafsu”.
Ini memang hal yang sulit ketika berhadapan dengan perasaan pribadi yang bertentangan dengan apa yang seharusnya. Hanya diri sendiri dan Alloh lah yang bisa menyelamatkannya. Ketika fitrah terjadi, maka itu ujian, benar-benar ujian Alloh. Bisakah sang manusia tidak memperturutkan nafsunya, hatinya, semua yang tidak seharusnya menjadikannya lemah dan jauh dari Alloh.
Layaknya seorang gadis kecil yang merengek-rengek minta es krim dan balon, manusia dewasa tak selayakya berlaku seperti gadis itu. Ketika takdir tidak mempertemukannya dengan es krim dan balon ya sudah. Itulah fitrahnya anak kecil yang sangat ambisius dengan keinginannya, tapi tidak lama, ia sudah bosan dan tak mau lagi merengek. Atau kalaupun dia sudah mendapatkan es krim dan balon, tak lama pun ia cepat melupakannya. Andai manusia dewasa juga bisa melakukannya pasti semua orang di dunia ini tak akan banyak yang terpuruk karena nafsu mereka sendiri.
Semua yang sudah tertulis dalam takdir Alloh adalah baik untuk manusia. Buruk itu hanya pandangan dan persepsi manusia saja (kata Ustadz Deden di MT 3). Manusia diberi pilihan untuk memilih, mengambil takdir mana yang terbaik untuknya, bukan menentukan hasil, hanya mengusahakan yang terbaik. Hasilnya ya terserah Alloh, mau diapakan hidup kita. Namun, kadang manusia mudah menyerah dengan keadaan yang dia pikir itu sudah takdir, padahal itu masih bisa diubah dengan ikhtiar dan doa. Keadaan yang buruk itu perlu dilawan dengan usaha terbaik kita menuju keadaan yang membaik. Usaha itu seharusnya tak berhenti sampai ajal menjemput. Nasib dan takdir manusia hanya Alloh Yang Tahu, manusia hanya bisa berusaha, berdoa, berusaha, berdoa. Wallahu’alam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar