Ketakutan yang semakin mendalam
Rasa bersalah yang tak bisa hilang
Rasa sesak yang menyiksa dada
Malam ini, aku belum mau beranjak tidur. Aku bahkan tak merasa mengantuk. Betapa bodohnya diri ini, betapa egoisnya, teganya diri ini menenggelamkan diri dalam ketidakjelasan yang membuatku tak bisa menolong saudaraku.
Ia sedang sakit di luar sana, kau baik-baik saja. Kenapa kau merasa sangat buruk padahal ada yang lebih buruk dari keadaanmu sekarang…
Astaghfirullahal’adzhim….
Sungguh, aku benar-benar merasa bersalah
Maafkan aku.....
Rabu, 22 Juni 2011
Senin, 20 Juni 2011
Dimana Bumi dipijak di situ Langit dijunjung
Sepakat dengan peribahasa ini??
Tinggal di bumi yang penuh dengan aturan memang sebuah fitrah dalam hidup. Sebagai manusia yang tinggal di belahan bumi itu maka harus menjunjung apa yang sudah diatur di dalamnya, sampai urusan terkecil sekalipun. Belahan bumi yang mungkin kurang membuat beberapa penghuninya tidak berkembang, potensinya tidak termanfaatkan dengan baik, hanya sekedar mengikuti arus yang sudah ditetapkan tanpa bisa memepertanyakan kenapa dan untuk apa?
Akhirnya yang ada adalah kebosanan yang melanda, tak berhenti, tak ada solusi yang signifikan, hanya diri sendiri yang bisa mengatasi kegalauan diri.
Kalau tinggal di belahan bumi yang sempit, penghuni-penghuninya juga pemikirannya sempit, cuma punya 1 kacamata. Akhirnya yang ada adalah saling menyalahkan. Padahal, belahan bumi itu sedang dalam keadaan HAMPIR SEKARAT. Sebuah aturan dan system yang sudah dibuat di belahan bumi itu sangat sulit diubah, akhirnya SEKARATnya belahan bumi itu pun tidak kunjung membaik.
Maka dari itu, kacamata yang banyak itu juga penting, supaya nggak ketinggalan zaman. Sebenarnya masih bisa diubah belahan bumi itu menjadi lebih baik. Namun, para pejabat2 tinggi di sana yang seolah tidak membuka lebar-lebar kesempatan dan peluan untuk perubahan yang cukup signifikan. Karena itu tadi, kebanyakan dari mereka cuma punya 1 kacamata. Jadi ketika melihat orang yang cukup aneh,berbeda, “nakal” (katanya) langsung menangkisnya mentah-mentah. Memilih untuk menjauh dan menikmati aturan dan system yang sudah ada.
Memang, kita sebagai manusia, harus menghargai dimana tempat kita berada, karakternya seperti apa tapi bukan berarti mengikuti yang kebanyakan itu kan? Yang terpenting mengikuti apa yang sudah diperintahkan oleh Alloh dan soal “style” berbeda boleh-boleh saja kan?? Apa itu salah?
Kalau sudah HAMPIR SEKARAT, terus gimana coba? Apa yang bisa dilakukan dengan system yang ada sekarang ini???
Menjunjung langit dimana kita berpijak memang benar, namun tak seluruhnya harus seperti yang ada di bumi itu kan?? Berbeda boleh, asal tidak menyalahi aturan agama, betul tidak?? Menjadi inisiator perubahan itu juga butuh massa, tidak bisa sendiri…
Kalau sendirian berbahaya, bisa-bisa didepak dan diasingkan ke planet Mars…..
Selamat Menginterpretasi! ^-^
21th of June, 2011
00:38 @comfortplace
Tinggal di bumi yang penuh dengan aturan memang sebuah fitrah dalam hidup. Sebagai manusia yang tinggal di belahan bumi itu maka harus menjunjung apa yang sudah diatur di dalamnya, sampai urusan terkecil sekalipun. Belahan bumi yang mungkin kurang membuat beberapa penghuninya tidak berkembang, potensinya tidak termanfaatkan dengan baik, hanya sekedar mengikuti arus yang sudah ditetapkan tanpa bisa memepertanyakan kenapa dan untuk apa?
Akhirnya yang ada adalah kebosanan yang melanda, tak berhenti, tak ada solusi yang signifikan, hanya diri sendiri yang bisa mengatasi kegalauan diri.
Kalau tinggal di belahan bumi yang sempit, penghuni-penghuninya juga pemikirannya sempit, cuma punya 1 kacamata. Akhirnya yang ada adalah saling menyalahkan. Padahal, belahan bumi itu sedang dalam keadaan HAMPIR SEKARAT. Sebuah aturan dan system yang sudah dibuat di belahan bumi itu sangat sulit diubah, akhirnya SEKARATnya belahan bumi itu pun tidak kunjung membaik.
Maka dari itu, kacamata yang banyak itu juga penting, supaya nggak ketinggalan zaman. Sebenarnya masih bisa diubah belahan bumi itu menjadi lebih baik. Namun, para pejabat2 tinggi di sana yang seolah tidak membuka lebar-lebar kesempatan dan peluan untuk perubahan yang cukup signifikan. Karena itu tadi, kebanyakan dari mereka cuma punya 1 kacamata. Jadi ketika melihat orang yang cukup aneh,berbeda, “nakal” (katanya) langsung menangkisnya mentah-mentah. Memilih untuk menjauh dan menikmati aturan dan system yang sudah ada.
Memang, kita sebagai manusia, harus menghargai dimana tempat kita berada, karakternya seperti apa tapi bukan berarti mengikuti yang kebanyakan itu kan? Yang terpenting mengikuti apa yang sudah diperintahkan oleh Alloh dan soal “style” berbeda boleh-boleh saja kan?? Apa itu salah?
Kalau sudah HAMPIR SEKARAT, terus gimana coba? Apa yang bisa dilakukan dengan system yang ada sekarang ini???
Menjunjung langit dimana kita berpijak memang benar, namun tak seluruhnya harus seperti yang ada di bumi itu kan?? Berbeda boleh, asal tidak menyalahi aturan agama, betul tidak?? Menjadi inisiator perubahan itu juga butuh massa, tidak bisa sendiri…
Kalau sendirian berbahaya, bisa-bisa didepak dan diasingkan ke planet Mars…..
Selamat Menginterpretasi! ^-^
21th of June, 2011
00:38 @comfortplace
Senin, 13 Juni 2011
All about Love
Iman itu laut, cintalah ombaknya
Iman itu api, cintalah panasnya
Iman itu angin, cintalah badainya
Iman itu salju, cintalah dinginnya
Iman itu sungai, cintalah arusnya
Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan
Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan
Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi lebih peka, lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri. Cinta tidak sentimental dan tidak melemahkan.
Tirani. Momok besar dalam sejarah manusia ini selalu berkoalisi dengan kekuasaan. Tapi momok ini tetap bisa dilawan. Dan kekuatan yang bisa melawannya hanya cinta. Cinta adalah kutub jiwa yang berlawanan dengan tirani : ia lahir dari respek dan penghargaan kepada manusia.
Begitu kekuasaan mendapatkan sentuhan cinta, wajahnya segera berubah : gurat-gurat kekejaman segera berganti jadi garis-garis kerentaan dari seorang penguasa yang lelah melayani rakyatnya.
Mencintai adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan kepribadian.
Cinta itu pekerjaan orang kuat.
Keshalihan selalu bersaudara dengan cinta.
Pada mulanya cinta adalah gagasan tentang bagaimana membahagiakan dan menumbuhkan orang lain. Selanjutnya cinta adalah kemauan baik yang menjembatani gagasan itu menuju alam kenyataan. Sisanya adalah kemampuan. Cinta yang hanya berkembang di batas gagasan dan kemauan baik akan tampak seperti pohon rindang yang tidak berbuah.
dikutip dari Serial Cinta by Anis Matta
Iman itu api, cintalah panasnya
Iman itu angin, cintalah badainya
Iman itu salju, cintalah dinginnya
Iman itu sungai, cintalah arusnya
Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan
Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan
Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi lebih peka, lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri. Cinta tidak sentimental dan tidak melemahkan.
Tirani. Momok besar dalam sejarah manusia ini selalu berkoalisi dengan kekuasaan. Tapi momok ini tetap bisa dilawan. Dan kekuatan yang bisa melawannya hanya cinta. Cinta adalah kutub jiwa yang berlawanan dengan tirani : ia lahir dari respek dan penghargaan kepada manusia.
Begitu kekuasaan mendapatkan sentuhan cinta, wajahnya segera berubah : gurat-gurat kekejaman segera berganti jadi garis-garis kerentaan dari seorang penguasa yang lelah melayani rakyatnya.
Mencintai adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan kepribadian.
Cinta itu pekerjaan orang kuat.
Keshalihan selalu bersaudara dengan cinta.
Pada mulanya cinta adalah gagasan tentang bagaimana membahagiakan dan menumbuhkan orang lain. Selanjutnya cinta adalah kemauan baik yang menjembatani gagasan itu menuju alam kenyataan. Sisanya adalah kemampuan. Cinta yang hanya berkembang di batas gagasan dan kemauan baik akan tampak seperti pohon rindang yang tidak berbuah.
dikutip dari Serial Cinta by Anis Matta
Langganan:
Postingan (Atom)